Kasus peluru nyasar, orangtua Angga mengaku diajak damai polisi
Merdeka.com - Kasus peluru nyasar milik anggota Satres Narkoba Polresta Palembang yang menewaskan Rendi Anggara (11), diduga membuat polisi gerah. Buktinya, keluarga korban mengaku diajak sejumlah polisi berdamai agar hukum kasusnya ditutup.
Yani, ibu korban mengaku ajakan berdamai tersebut terjadi saat para polisi menghadiri peringatan tujuh hari meninggalnya bocah kelas V SD itu beberapa hari yang lalu.
"Waktu nujuh hari kemarin, mereka (polisi) datang ke rumah, mau ngajak berdamai," ungkap Yani saat ditemui di Mapolda Sumsel, Senin (14/12).
Namun, pihak keluarga secara halus menolak ajakan tersebut. Mereka beralasan, kematiannya baru beberapa hari dan masih dalam keadaan berduka. "Ya, kami tolak, 40 hari juga belum," ujarnya.
Untuk saat ini, Yani berharap kasus tersebut diusut tuntas sehingga penembaknya dapat dihukum setimpal. "Kami minta terus diusut sampai polisi itu dihukum," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Ditreskrimum Polda Sumsel Kombes Pol Sumarso menegaskan, pihaknya akan tetap memproses kasus ini secara hukum pidana umum, sesuai laporan yang disampaikan keluarga korban ke SPKT Polda Sumsel beberapa waktu yang lalu. Hanya saja, pemeriksaan dilakukan secara bertahap karena juga ditangani Propam Polda Sumsel secara kode etik dan profesi anggota.
"Pidana umum masih proses dan akan kita panggil juga. Tapi sekarang propam dulu yang nangani," tegasnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya