Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

JPO Pasar Minggu roboh, salah siapa?

JPO Pasar Minggu roboh, salah siapa? JPO di Pasar Minggu roboh. ©2016 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Guyuran hujan deras disertai angin kencang membuat jembatan penyeberangan orang di Pasar Minggu, Jakarta Selatan ambruk. Bagian railing terlepas dari penyangga dan jatuh ke underpass. Akibatnya, tiga orang warga tewas dan melukai tujuh lainnya luka-luka.

Pasca-ambruknya JPO tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera menyelidiki penyebab jatuhnya railing JPO. Tak ketinggalan, polisi juga menggelar olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di lokasi yang sama.

Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta mensinyalir penyebab ambruknya railing JPO tersebut akibat papan reklame yang dipasang tak sesuai aturan. Tak heran, begitu tertiup angin kencnag, railing JPO langsung terlepas dari penyangganya.

"Dugaan awal disebabkan oleh billboard yang jatuh. Kami memastikan JPO ini kuat. Billboard tertiup angin jadi langsung rubuh ke bawah," ujar Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi Andri Yansah di lokasi kejadian, Sabtu (24/9).

Hal berbeda justru diungkap kepolisian. Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri saat melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) robohnya JPO di Pasar Minggu, Jakarta Selatan menemukan adanya karat di beberapa titik jembatan,

"Kita ambil barang bukti yang di TKP, itu produk korosi, antara lain cat. Nanti akan dilanjutkan pemeriksaan di Puslabfor menggunakan alat-alat di sana," kata Kepala Bidang Balistik dan Metalurgi Forensik (Balmetfor) Puslabfor Mabes Polri, Ulung Kanjaya di lokasi ambruknya JPO Pasar Minggu, Minggu (25/9).

Menurut Ulung, runtuhnya jembatan yang membentang dari Stasiun hingga pasar tradisional Pasar Minggu itu diduga disebabkan oleh faktor alam, yakni kencangnya angin yang berhembus, serta kondisi kerangka jembatan yang sudah tidak memenuhi syarat.

"Dugaan sementaranya ya ada faktor luar, tapi ada karena kekuatan jembatan juga yang sudah tidak memenuhi syarat," tuturnya.

Timnya menemukan sejumlah titik di kerangka jembatan yang ternyata sudah berkarat. Hal ini diduga menjadi salah satu penyebab kerangka jembatan menjadi kurang kuat. Selain itu, adanya reklame yang dipasang di jembatan juga menjadi faktor penunjang robohnya jembatan.

"Ya, itu (reklame) juga bisa. Kuatnya angin itu juga menyebabkan dorongan terhadap jembatan itu lebih besar. Tapi kalau kondisi jembatan masih bagus, itu bisa bertahan. Karena sudah enggak bagus, itu bisa seperti itu, patah," tambahnya.

Ketika disinggung mengenai temuan kepolisian, Andri Yansah memberikan jawaban mengambang.

"Nanti kita lihat saja hasil keseluruhan, kita enggak simpulkan bisa simpulkan berlebihan dulu karena sudah ditangani kepolisian, kita tunggu saja," kata Andri Yansyah saat dihubungi merdeka.com, Senin (26/9).

Dia menjelaskan, untuk pembangunan sebuah JPO terbagi dalam tiga struktur. Yakni pondasi, gelagar (lantai JPO), railing dan atap, semua bagian-bagian itu merupakan satu kesatuan. Terkait insiden JPO di Pasar Minggu kemarin, katanya, memang ada keterkaitan dengan papan reklame yang dipasang.

Seharusnya, kata dia, papan reklame yang dipasang bertumpu pada gelagar bukan di railing jembatan.

"Itu enggak boleh ditempel di railing, karena railing enggak punya kekuatan menahan angin. Dan fakta di lapangan reklame itu tidak bertumpu di gelagar, dia nempel di railing," jelasnya.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP