JK sebut sulit lawan Israel jika Fatah dan Hamas tidak bersatu
Merdeka.com - Penyerangan Israel terhadap Palestina masih terus terjadi. Penyerangan itu bahkan memicu pembatasan ibadah umat muslim di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem.
Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, penyerangan itu adalah masalah klasik. Untuk menyelesaikan konflik tersebut perlu komitmen Palestina bersatu.
"Karena sampai sekarang Palestina, Fatah dengan Hamas tidak bersatu. Jadi bagaimana mereka melawan Israel kalau sendirian, karena Hamas dengan itu tidak bersatu," kata JK di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (25/7).
JK mengingatkan, dunia internasional sudah menyerukan kemerdekaan Palestina. Pada beberapa tahun terakhir, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) juga mendorong perdamaian Palestina.
"Ini intinya, orang Palestina sendiri harus bersatu. Itu dulu, baru kemudian tentu kalau solidaritas sangat tinggi di mana-mana," ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi mengatakan, Pemerintah RI meminta Amerika Serikat mendesak Israel untuk berhenti membatasi kegiatan ibadah di Masjid Al-Aqsa. Permintaan itu sudah disampaikan langsung ke Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
"Saya sudah meminta Amerika Serikat mendesak Israel agar eskalasi tidak terjadi atau tidak meningkat di kompleks Al-Quds," kata Retno di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (24/7).
Kepada Amerika Serikat, Retno menekankan, Masjid Al-Aqsa merupakan tempat suci yang sangat penting bagi umat Islam. Masjid tersebut adalah kiblat pertama umat Islam sehingga harus dilindungi.
Amerika Serikat menyambut baik permintaan tersebut dan setuju perlunya dipelihara status quo kompleks Al-Quds. Amerika juga merasa khawatir dengan tindakan Israel.
"Mereka mengkhawatirkan jika eskalasi ini masih tidak bisa diturunkan maka dampaknya akan lebih banyak lagi. Eskalasi harus ditekan seminimal mungkin," jelasnya.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia ini menambahkan, pemerintah juga sudah berkomunikasi dengan pemerintah Jordania dan Turki untuk menyelamatkan Palestina. Di samping itu, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) diminta segera mengambil sikap untuk menentukan nasib Palestina.
"Kita sekarang tinggal menunggu tanggal kapan OKI akan bersidang," ucapnya.
Retno mengingatkan, isu Palestina berada di jantung politik luar negeri Indonesia. Sebab kemerdekaan Palestina adalah mandat dari konstitusi Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia berada di baris terdepan untuk memerdekakan Palestina.
"Di setiap napas konstitusi luar negeri kita selalu ada Palestina," kata Retno.
(mdk/rnd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya