Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jenderal TNI ini sasaran pengadilan rakyat soal 65 di Belanda

Jenderal TNI ini sasaran pengadilan rakyat soal 65 di Belanda Poster pengadilan rakyat 1965 di Belanda. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Tragedi 1965 sudah berlalu. Pemerintah juga telah memutuskan untuk tak meminta maaf atas kasus pembunuhan, penyiksaan dan pelecehan seksual yang terjadi saat peristiwa tersebut berlangsung.

Penolakan pemerintah membuat korban-korban tragedi 1965 menggugat pemerintah. Meski demikian, pengadilan ini bukan sungguhan meski digelar di Den Haag, Belanda. Peradilan itu dilakukan untuk mendesak pemerintah mengusut kasus 1965.

Pengadilan tersebut digelar atas inisiatif dari International People's Tribunal (IPT). Sidang sudah berlangsung selama dua hari dan direncanakan bakal selesai hari ini, atau Sabtu (14/11) besok.

Tak banyak warga Indonesia masa kini tahu, selepas insiden penculikan enam jenderal Angkatan Darat pada 30 September 1965, paling tidak 1 juta orang dibunuh di Sumatera, Jawa, Bali, NTT; belasan ribu lainnya ditahan tanpa pengadilan. Ada pemenang sejarah, ada yang dinista. Publik Barat terkejut menyaksikan film dokumenter 'Jagal' (2013), ternyata di Indonesia terjadi genosida dan kejahatan politik tak kalah buruk dari ulah Nazi selama Perang Dunia II.

IPT digelar selama empat hari. Seluruh agenda kegiatan bisa disaksikan lewat sambungan internet di situs resmi mereka. Pada sidang pertama kemarin, fakta-fakta soal pembantaian massal 1965 diungkap. Saat berita ini dilansir, sidang fokus membahas penyiksaan tahanan politik terduga komunis dan kekerasan seksual bagi tapol perempuan.

Untuk hari ketiga dan keempat, topik yang dibahas penghilangan paksa terduga komunis dan keterlibatan negara lain dalam pembantaian massal itu. Negara-negara dinilai turut menanggung dosa itu adalah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Pemerintah RI, sebagai salah satu terdakwa, dituntut jaksa atas sembilan poin pelanggaran HAM berat.

"Kenapa kita semua berkumpul di sini? Jawabannya adalah kita ingin memperoleh kebenaran. Bangsa Indonesia ingin mencari kebenaran," kata Kepala Tim Jaksa, Todung Mulya Lubis.

Lalu, siapakah Jenderal yang menjadi sasaran pengadilan ini? (mdk/tyo)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP