Jelang HUT RI, perajin lampion merah putih laris manis
Merdeka.com - Jelang HUT kemerdekaan Indonesia, perajin lampion di Kota Malang, Jawa Timur mengalami peningkatan permintaan hingga sekitar 60 persen. Ahmad Syamsudin (30), perajin Kampung Lampion Jalan Djuanda Kota Malang mengatakan, kenaikan permintaan terjadi secara musiman setiap tahun.
Lampion dengan motif merah dan putih atau perpaduan keduanya, dipesan untuk aksesoris out door.
"Sekarang yang ramai motif merah putih, menjelang Agustusan. Alhamdulillah produksi meningkat sekitar antara 50 persen sampai 60 persen. Produksi sudah mulai bulan lalu," kata Ahmad di rumahnya Jalan Djuanda Gang 5, Kelurahan Muharto, Kota Malang, Sabtu (6/8).
Ahmad mengaku akan menyesuaikan motif dan model, sesuai dengan permintaan dan pesanan. Saat menjelang Imlek atau peringatan Budaya Tionghoa lainnya, yang banyak diproduksi jenis lampion China dengan ciri khasnya warna merah dan huruf China.
"Kalau hari biasa banyak model, ada kotak, oval, aladin, tetapi sekarang cenderung bulat-bulat warna merah-putih, atau merah saja, putih saja," jelasnya.
Ahmad mengaku sudah mengantisipasi permintaan dengan produksi awal jauh-jauh hari. Sebelum bulan Agustus datang, sudah mulai menyiapkan kebutuhan bahan baku dan mengawali produksi.
"Antisipasi lonjakan pesanan dengan menyediakan stok sejak sebulan lalu. Tetapi orderan sebagian sudah datang. Kalau bahan sudah disiapkan, kita nandon. Semua orderan berusaha kita penuhi dengan baik," katanya.
Sebelum Agustus, Ahmad sudah pengiriman beberapa pesanan di luar kota. Hingga sekarang, sudah seribu unit lebih yang dijual.
"Ada 1.000 potong lebih. Sudah kirim ke Jakarta, Tangerang, Jambi, Malang Raya, instansi-instansi, sekolahan pesan ke sini," katanya.
Sementara itu di rumah Ahmad, tampak para karyawan sedang bekerja menyelesaikan pesanan. Sebanyak 12 karyawan, bekerja sesuai bagian masing-masing.
Sebagian membuat kerangka berbahan rotan dengan menggunakan mal berupa besi setengah lingkaran. Besar kecilnya diameter lingkaran akan disesuaikan dengan permintaan.
"Harga dari mulai Rp 15 ribu, hingga puluhan juta untuk lampion karakter. Ada 50 model mulai diameter 20 centimeter sampai 10 meter. Khusus model hewan sesuai pesanan dengan harga yang akan disesuaikan dengan tingkat kesulitannya," katanya.
Ahmad juga menceritakan, bahwa trend lampion saat sekarang menggunakan kain jenis tertentu dan bukan kertas lagi. Selain itu, kain lebih kuat, karena saat hujan kain masih dapat bertahan.
"Selain itu harga kain lebih murah daripada kertas, justru mahal kertas. Padahal kain lebih kuat, kertas sekali hujan langsung hilang," katanya.
Selain motif merah dan putih, Ahmad juga memproduksi aneka lampion dengan berbagai motif dan model sesuai pesanan. Ia melayani pemesanan lampion terbang, lampion apung, lampion taman, lampion karakter, lampion China dan lampion Jepang.
Ahmad beberapa kali terlibat dalam even internasional seputar lampion. Ia juga sedang diminta oleh seorang pengusaha untuk membuat sebuah museum lampion. Beberapa lampion karyanya juga sudah diekspor ke sejumlah negara.
(mdk/eko)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya