Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jangan Panik, Lakukan Ini Saat Dipatuk Ular Berbisa

Jangan Panik, Lakukan Ini Saat Dipatuk Ular Berbisa Ular putih Papua. ©2022 mapress.com/kingsnake.com

Merdeka.com - Anaas Muhtazul'ulum, nama anggota Exotic Animal Lovers atau Exalos Indonesia ini mendadak ramai diperbincangkan. Ironi, ia meregang nyawa usai dipatuk ular putih berbisa atau Micropechis Ikaheka asal Papua.

Tiga puluh menit setelah dipatuk, Anaas sempat mengirimkan kondisi terakhirnya ke seorang dokter. Sayang, nyawanya tidak bisa tertolong lagi.

Lantas bagaimanakah pertolongan pertama terhadap seseorang setelah digigit ular berbisa?

Dokter Ahli Ular Berbisa Tri Maharani menjelaskan pertolongan pertama yang tepat menjadi penentu seseorang bisa terselamatkan atau tidak setelah digigit ular berbisa.

Ia mengatakan menurut standar Who Health Organization (WHO) yakni menghambat lajur bisa ular dengan meminimalisir gerak pada bagian tubuh terkena gigitan ular. Atau dikenal dengan imobilisasi untuk neurotoxin.

Caranya:

Pressure Bandage Imobilisasi dengan menggabungkan metode pembebatan dan elastic bandage.

"Tujuannya menekan muscle agar tidak kontraksi yang memicu pumping dari kelenjar getah bening sehingga mempercepat penyebaran venom neurotoxin tadi," jelas Maharani saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (14/3).

Metode itu digabungkan dengan imobilisasi bahan rigid seperti spalk dari kayu, bambu atau kardus. "Yang membuat pergerakan bagian yang digigit menjadi sangat sedikit," sambungnya.

Setelah meminimalisir gerak otot pada bagian tubuh digigit ular, selanjutnya segera mendatangi pelayanan kesehatan terdekat.

Maharani melanjutkan ada juga cara penanganan pertama saat digigit ular berbisa. Namun, cara ini tidak sesuai standar WHO.

"Yaitu, disedot, disayat, dikeluarkan darahnya, ditusuk dengan jarum atau kancet, diikat, diberi batu hitam, disetrum listrik, dikompres es, dipijat," bebernya.

Meski demikian, Maharani tidak merekomendasikan cara tersebut lantaran berpotensi menambah fatalitas luka.

Panji Petualang

Sementara itu pemerhati ular Muhammad Panji atau lebih dikenal Panji Petualang membagi pengalamannya saat memberikan pertolongan pertama seseorang yang digigit ular.

Tak lain, anaknya yang masih berusia 6 tahun digigit ular cobra. Panji menceritakan saat itu anaknya tengah menangkap Cobra liar yang masuk ke dalam rumah.

Ia mengungkap penanganan pertama saat itu dilakukan secara tega dan tidak tega. Yakni, memasukan bagian tubuh digigit Cobra yakni jari kelingkingnya ke dalam air panas selama 5 menit.

"Aku tega enggak tega. Jarinya sampai kemerahan, kebakar jarinya," tuturnya.

Air panas, kata Panji, menyebabkan sel-sel di dalam jari anaknya rusak. Praktis, lajur penjalaran bisa ular jadi terputus.

"Pembengkakan masih terjadi di anakku tapi tidak separah kalau enggak aku gituin (celupkan ke air panas) dan enggak ada bekas," ungkapnya.

Meski anaknya harus mengalami pelepuhan kulit pada jari kelingkingnya setidaknya nyawa bisa tertolong.

"Cuman karena ini teori dan pengalamanku aku enggak berani kadang-kadang merekomendasikan ke publik," bebernya.

Ia menegaskan tetap diperlukan penanganan secara medis terhadap seseorang jika digigit ular berbisa. "Karena digigit ular itu pasti terasa nyeri badan, kalau di rumah sakit kan bisa disuntik anti nyeri. Walaupun enggak ada anti bisa ya, bisa ada tindakan yang lebih baik," ungkapnya.

Digigit Ular Berbisa yang Tidak Ada Anti-Bisanya, Bagaimana?

Panji berpendapat meskipun digigit ular berbisa yang belum ada anti-bisanya masih bisa ditolong. Namun, ia menggunakan teorinya sendiri.

"Ini kalau teoriku ya, bukan teori dokter atau peneliti. Karena aku dari kecil punya pengalaman nanganin orang digigit ular," tegasnya.

Panji melanjutkan sejauh penelitiannya, racun atau bisa ular memiliki dua kandungan konsentrasi.

"Yakni, neurotoxic dan hemotoxic. Racun darah dan sel jaringan bisa merusak itu hemotoxic. Yang neurotoxic bisa syaraf yang bahaya kan itu," ungkapnya.

Semua racun ular, sambung Panji, berasal dari protein dari makanan mereka yang sudah terekstrasi dalam tubuh ular. "Jadi racun itu bisa untuk membunuh mangsa dan mencerna makanan sebetulnya itu fungsi bisa ular," katanya.

Ketika racun ular masuk ke dalam tubuh, ia tidak akan langsung menyatu dengan darah. Melainkan, akan tersangkut terlebih dahulu di kelenjar getah bening, yakni antara kulit dan daging.

"Jadi semakin kita gerak, otot kita banyak gerak semakin mendorong bisa itu masuk ke darah akhirnya merusak," jelasnya.

(mdk/rhm)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP