Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jangan cari pasal di Medan! Apa artinya?

Jangan cari pasal di Medan! Apa artinya? Kota Medan. ©istimewa

Merdeka.com - "Jangan cari pasal kau ya, buat aku marah saja." Pasal yang dimaksud bukan bagian dari Undang-undang, melainkan berarti gara-gara.

"Cok kelen rasakan, apa bedanya naik kereta di Medan dengan di Jawa." Cok berarti berarti coba.

"Kalau mau beli sayur pergi kelen ke pajak, biar tau beda pajak di Medan dan di Jawa." Kelen berarti kalian, pajak berarti pasar yang menjual sayur mayur dan ikan.

Tiga dialek ini hanya bisa ditemui ketika Anda pergi melancong ke bagian utara di Pulau Sumatera. Warga menyebut kata-kata slang ini sebagai bahasa Medan.

Belum ada penjelasan akademis bagaimana mulanya bahasa Medan ini bisa muncul dan menjadi bahasa sehari-hari. Namun dari penelusuran merdeka.com, sejumlah penjelasan menjelaskan sebenarnya tak bahasa Medan itu sendiri tak ada. Yang ada hanya dialek Melayu yang sudah terbentuk lama kemudian bercampur dengan bahasa batak dan sejumlah etnis yang bermigrasi ke Medan seperti Batak, Minang, Aceh dan Melayu pesisir.

Biasanya, pelancong yang datang ke Medan akan kebingungan dengan kata-kata slang itu. Belum lagi cara pengucapannya, mereka yang tak bisa pasti akan kesulitan.

Tapi tak semua bahasa Medan memakai kata-kata slang. Ada beberapa kata yang umum, tapi maknanya tak sesuai dengan kosakata bahasa Indonesia.

Pengamat budaya Joe Marbun, menilai bahasa Medan itu sendiri lahir dari sebuah pengaruh teknologi tanpa ada penjelasan yang utuh pada masyarakat kala itu. Sehingga apa yang trade mark orang Medan.

"Jadi memang sulit juga kalau secara akademisi dicari asal muasal bahasa Medan itu lahir," kata Joe saat berbincang dengan merdeka.com, pada Kamis (17/9) kemarin.

Dia kemudian mencontohkan beberapa kata yang cukup populer di Medan tapi bikin kaget buat yang mendengar. Di Medan, kata dia, sepeda motor disebut dengan kereta. Padahal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kereta berarti kereta api atau kendaraan beroda yang bisa ditarik dengan kuda.

Tak hanya itu, penyebutan sepeda motor di Medan biasanya juga dikatakan dengan Honda. Padahal, Honda itu mengacu pada merek sebuah kendaraan roda dua.

Selain itu soal penyebutan nomor pelat. Orang Medan biasanya menyebut 'berapa BK mu'. BK sendiri merupakan seri kendaraan.

"Nah itu menunjukkan bahasa simbol dan tanda bagi masyarakat di sana cukup kuat," jelasnya.

Dia tak melihat kemunculan bahasa Medan itu karena kebudayaan sejumlah etnis di sana telah menghilang. Ditegaskan dia, kata-kata slang itu makin melekat karena secara tak disadari disepakati masyarakat itu sendiri.

"Jadi bukan kerana itu (budaya tidak kuat). Karena kan dulu orang juga tidak mengenal Honda. Tapi yang terjadi, masuknya teknologi membuat mereka menciptakan satu istilah terhadap yang dilihatnya kemudian terjadilah interaksi kebudayaan baru yang melekat," jelas dia.

"Justru saya lihat, masyarakat di sana memiliki kebudayaan yang kuat dan terbuka buktinya tak pernah persoalkan kehadiran kebudayaan baru seperti bahasa slang ini," sambungnya.

Buatnya, keberadaan bahasa itu justru menambah ciri khas Medan yang dimiliki tempat lain. Apalagi, kata dia, dengan masuknya pendatang dari Arab, India dan beberapa negara lainnya pasti menambah perbendaharaan kata bahasa Medan itu sendiri.

"Karena bisa jadi ini ada karena etnis baru, etnis baru yang harus dilabeli ulang makanya lahirlah itu. Kalau di Jawa fungsi dari sesuatu dibendakan untuk hal-hal yang tak mereka kenal sebelumnya, kalau di Sumatera apa yang mereka lihat itu yang disebutkan dan akhirnya sepakat dengan itu," pungkasnya. (mdk/lia)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP