Istana tegaskan beli banyak drone untuk pantau wilayah perbatasan
Merdeka.com - Pemerintah memutuskan akan membeli drone dalam jumlah besar. Sekretaris Kabinet Pramono Anung menjelaskan pembelian drone merupakan suatu kebutuhan untuk memantau daerah perbatasan.
"Sekarang ini kita perlu banyak drone untuk memantau daerah perbatasan, narkoba, dan macam-macam, sehingga kebutuhan drone itu juga cukup besar," kata Pramono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (26/7).
Keputusan membeli drone dalam jumlah besar merupakan hasil dari Rapat Terbatas dipimpin Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla membahas Kebijakan Pengadaan Alat utama sistem pertahanan (Alutsista). Selain membeli drone dalam jumlah besar, rapat terbatas juga memutuskan akan membeli 11 Pesawat Sukhoi-35 dari Rusia.
Pramono mengingatkan, Presiden Jokowi telah meminta pengadaan alutsista harus mengedepankan prinsip transparansi. Jokowi meminta pembelian alutsista dilakukan atas pembicaraan langsung secara G to G atau pembicaraan antara pemerintah dengan pemerintah.
"Penekanannya adalah dilakukan secara G to G. Tidak lagi menggunakan broker, menggunakan middle man, langsung G to G dan kemudian Presiden mendorong sebaiknya dilakukan dengan imbal dagang," ujarnya.
Rapat Terbatas membahas Kebijakan Pengadaan Alat utama sistem pertahanan (Alutsista) yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo memutuskan pemerintah melalui Kementerian Pertahanan akan membeli 11 Pesawat Sukhoi-35. Selain membeli Pesawat Sukhoi, pemerintah memutuskan akan membeli Drone dalam jumlah besar.
"Banyak dong (belinya) kita negara kepulauan, ini lebih murah dibandingkan pesawat," kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (26/7).
Meski mengatakan akan melakukan pembelian dalam jumlah besar, Ryamizard tak dapat memastikan berapa jumlah pasti pembelian tersebut. Da mengatakan, akan mencari drone dengan harga yang murah namun memiliki kualitas yang bagus.
"Lagi cari yang bagus, yang lebih murah, beli aja sedikit nanti dikembangkan. Besok saya akan minta pabrik drone datang , uji coba mana yang bagus," ujarnya.
Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksda Leonardi menjelaskan, drone yang akan dibeli merupakan drone dengan kelas Medium Altitude Long Endurance (Male). Drone ini dapat dipergunakan untuk melakukan penyerangan.
"Dia mintanya yang Male supaya bisa mendeteksi, mengidentifikasi, dan kemungkinan bisa serang, menjatuhkan bom," katanya saat dikonfirmasi, Rabu (26/7).
Dia enggan mengungkapkan berapa harga dari drone tersebut. Dia hanya menjelaskan, drone itu dibeli dari China karena menurutnya tak ada negara lain yang berkenan menjualnya ke Indonesia.
"Yang mengizinkan kita untuk beli itu China. Yang lain enggak mau jual. Sejauh ini sudah penjajakan G to G (pembicaraan antara pemerintah dengan pemerintah). Spesifikasi-nya dari TNI AU," katanya.
Untuk sementara, Leonardi menjelaskan, pihaknya akan terlebih dahulu membeli secara bertahap. "Tiga unit, tiga baterai, jadi enam unit," ujarnya.
Nantinya, dia memastikan akan kembali melakukan pembelian. "Mungkin nanti pengadaan lagi. Yang penting punya dulu dengan teknologi terkini," terangnya. (mdk/ang)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya