Islam, demokrasi dan modernitas sejalan dengan reformasi
Merdeka.com - Wakil Presiden Boediono menyatakan, Islam, demokrasi dan modernitas yang berlangsung saat ini sejalan dengan visi reformasi. Karena itu, dia berharap agar umat Islam mampu mempertahankan tiga hal itu melalui ide yang kreatif dan inovatif.
"Islam, demokrasi dan modernitas, ini semua sejalan dengan apa yang kita semua perjuangkan dalam alam reformasi ini. Karenanya saya berharap Al-Irsyad dapat terus mempertahankan dan tampil dengan ide-idenya yang kreatif, inovatif," kata Wapres Boediono saat membuka Muktamar Ke-39 Perkumpulan Al-Irsyad Al-Islamiyah di Puri Agung Grand Sahid Jakarta, Senin (18/6).
Tampak hadir dalam acara itu Ketua Umum Perhimpunan Al-Irsyad H Abdullah Djaidi, Menteri Sosial Salim Segaf Al Djufri dan mantan Menteri Lingkungan Hidup Nabiel Makarim.
Sebagai salah satu lembaga Islam tertua di Indonesia, Boediono meminta agar Al-Irsyad mampu menangkap etos pembaruan dan sikap modern dari pendirinya. Sehingga, umat Islam tidak terjebak dan tenggelam dalam kebuntuan menjawab berbagai tantangan.
"Kesan yang saya tangkap, Al-Irsyad memiliki ciri demokrasi dan semangat modernitas yang kuat. Al-Irsyad tidak menekankan pada hierarki tetapi lebih bersifat egaliter. Sejak awal berdirinya perhimpunan ini memberikan tempat penting bagi kaum wanita," tuturnya.
Tak hanya itu, Wapres juga mengutip perkataan cendekiawan muslim almarhum DR Nurcholish Madjid. Dia menyampaikan Al-Irsyad merupakan salah satu dari tiga gerakan reformis Islam di Indonesia yang telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Salah satu di antaranya adalah ide yang mengilhami Kiai Ahmad Sahal untuk mendirikan pondok pesantren Gontor. Menurut Cak Nur, Kiai Sahal banyak mendapatkan bahan-bahan dari pendiri Al-Irsyad, Syekh Ahmad As-Surkati, terutama tentang gerakan modernisasi dari Al-Irsyad.
Selain itu, Wapres juga menyebut pahlawan nasional Bung Tomo, dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa gerakan Al-Irsyad ia kenal sejak kanak-kanak sebagai suatu gerakan yang senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan segenap gelombang perjuangan bangsa Indonesia.
"sejak dalam usaha-usaha untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda sampai pada waktu mempertahankan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 dan sesudahnya," kata Budiono.
Kini, Al Irsyad memiliki lebih dari 750 sekolah di seluruh negeri mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, 150 mesjid dan empat rumah sakit. Muktamar ke-39 ini dihadiri oleh lebih dari 400 pimpinan organisasi dan anggota Al Irsyad dari seluruh negeri. (mdk/dan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya