Ironi Korban Pelecehan Seksual: Tak Ada Perlindungan, Orangtua Pinjam Duit Sana-Sini
Merdeka.com - Cobaan hidup rasanya bertubi-tubi menimpa DR, seorang ibu muda berusia 34 tahun yang anaknya dicabuli tetangganya sendiri. Betapa tidak, kini DR dan suaminya tengah berjuang keras memulihkan kesehatan buah hati tercinta, baik fisik dan psikis.
Adalah S, anak di bawah umur yang masih berusia 11 tahun jadi korban pencabulan biadab A, pria 35 tahun, pemilik warung tak jauh dari rumah korban di Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi.
Ibunda korban, DR mengungkap sejak bulan Agustus, kali pertama peristiwa memilukan itu menimpanya hingga hari-hari selanjutnya selama tiga kali, S, anaknya jadi sering mengeluh sakit hingga muntah-muntah.
Bagian tubuh yang sering dirasakan sakit teramat oleh S, yakni perutnya akibat kondisi rahim yang sedang tidak baik.
Tak hanya satu hari, sakit yang diderita S bahkan bisa selama 3 hari. Malah, ada suatu masa S tidak bisa pergi ke sekolah selama 2 pekan lamanya. Ya, ia kesakitan usai dicabuli A.
DR menceritakan awalnya diagnosis dokter hanya penyakit maag. Namun, setelah sakit serupa terus berulang, naluri keibuannya pun berkata lain. Anak ini bukan sakit maag.
Setelah dibujuk, S akhirnya mengungkap fakta. Terkejut, sudah pasti. Namun, satu yang pasti, DR ingin kondisi fisik buah hatinya pulih.
Ironi, pemulihan fisik S yang menjadi korban pencabulan membutuhkan uang tak sedikit. DR sempat mengadu ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
"Tapi orang sananya (DP3A) nyuruh saya nunggu karena katanya sedang rapat," ungkap DR kepada merdeka.com, Kamis (13/1).
Tak patah arang, DR juga mengadu serta meminta bantuan ke Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi. Bak bertepuk sebelah tangan, DR diminta mengurusi kelengkapan administrasi seperti Kartu Keluarga (KK) serta persyaratan lainnya.
"Saya disuruh nunggu jawaban. Enggak tahu sampai kapan? curhatnya.
Padahal saat itu, DR mengaku sudah habis-habisan untuk menangani medis anaknya. Hampir putus asa, sudah tentu.
"Saya orang enggak punya, abis-abisan pisan. Ke sana sini juga minjem duit tetangga. Kan butuh ongkos juga," curhatnya.
Kondisi suami yang sedang tidak bekerja serta tutupnya warung miliknya, makin membuat DR terhimpit.
"Saya cuma minta bantuan medis saja biar sampai sembuh anak saya. Enggak tega rasanya," ungkapnya.
Ibu mana yang tega melihat buah hati tercinta, anak gadis yang seharusnya ceria bermain dengan teman-temannya, kini malah kerap mengurung diri.
Melamun, menangis hingga merintih menahan sakit. Itulah yang sehari-hari dirasakan anaknya.
(mdk/rhm)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya