IPB sulap limbah RPH jadi anak sapi mirip bayi tabung
Merdeka.com - Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB Prof Dr drh Mohammad Agus Setiadi memaparkan berdasarkan penelitiannya sumber sel telur (ovarium) dan spermatozoa (testis) sapi yang selama ini dianggap limbah di setiap Rumah Potong Hewan (RPH) ternyata bisa menghasilkan anak sapi. Proses limbah ini menyerupai seperti bayi tabung.
Penelitian ini dapat mengatasi pemerintah dalam kelangkaan sapi yang selalu mengandalkan hasil impor. Terlebih saat menjelang hari raya besar tertentu, kebutuhan akan daging sapi selalu meningkat. Sehingga terjadi pengurasan sumber bibit sapi yang sebetulnya kurang bagus untuk gizi maupun protein.
"Dari setiap sapi yang dipotong, menyisakan dua ovarium pada sapi betina dan dua testis pada sapi jantan. Limbah (ovarium dan testis) ini yang akan dikembangkan. Karena dengan teknologi produksi embrio in vitro, bisa menghasilkan keturunan baru," paparnya.
"Untuk kualitas daging, tetap sama. Itu (dagingnya) sama saja dengan sapi yang lahir dengan proses kawin alami. Ini hanya prosesnya yang berbeda, kita bawa ke laboratorium," tambahnya.
Dirinya mengatakan kalau teknologi ini telah berhasil memanfaatkan sumber plasma nutfah dari jenis-jenis sapi yang dulunya belum ada seperti Limousin, Simental, Wagyu dan sebagainya, yang selama ini diimpor pemerintah. Namun dirinya masih memerlukan dukungan dari lembaga-lembaga terkait.
"Untuk keberhasilan teknologi ini, masih perlu dukungan banyak pihak. Seperti lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Selain itu, kelangkaan resepien penerima embrio juga masih kendala. Makanya butuh resepien yang dan selektif," tandasnya.
Guna mengembangkan teknologi tersebut pihaknya akan bekerja sama dengan sejumlah Rumah Potong Hewan (RPH) agar limbah ovarium dari sapi tidak dibuang karena bisa dimanfaatkan. "Kalau untuk daging konsumsi, biasanya kan ovarium-nya dibuang. Nah, limbah ovarium-nya kita manfaatkan," katanya.
Selama ini menurutnya teknologi yang digunakan sebagai upaya mempertahankan populasi sapi juga sudah dilakukan di Balai Embrio, Kementerian Pertanian, di Desa Cipelang, Cijeruk, Kabupaten Bogor. Hanya yang dikembangkan di Cipelang adalah teknologi Ovarium Pickup.
"Teknologi di Cipelang itu generasi kedua, yakni transfer embrio, dari hewan hidup. Di sana juga sedang dikembangkan. Sementara teknologi yang ini (produksi embrio in vitro) adalah generasi ketiga, ini dari hewan yang mati. (Generasi) Keempat, baru kloning," pungkasnya. (mdk/tyo)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya