Inspiratif, anak buruh tani jadi wisudawan terbaik UIN Walisongo
Merdeka.com - Kamis (29/1) kemarin menjadi hari bersejarah bagi Siti Afidah. Siti diwisuda di tempatnya menimba ilmu Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Kota Semarang. Yang lebih membahagiakan, Siti Afidah menjadi wisudawan terbaik dan berhasil menyandang predikat cumlaude dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,84.
Afidah merupakan anak pertama dari pasangan Baidhowi dan Aminah. Penghasilan sang bapaknya pun secara logika, tidak cukup untuk membiayai kuliah anaknya.
Sebab, sebagai buruh, kedua orangtua Afidah penghasilannya hanya Rp 35.000 per hari dari hasil bekerja di sawah dan kebun. Meski hidup dalam kondisi demikian, kekuatan tekad dan semangat membuat Siti Afidah berprestasi.
Lalu bagaimana Siti Afidah bisa tetap kuliah bahkan hingga akhirnya menyabet predikat cumlaude? Berikut kisah inspiratifnya:
Siti Afidah jadi guru les baca Alquran
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSiti Afidah, warga Desa Brangsong RT 12 RW 5 Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal ini mulai duduk di bangku kuliah sejak tahun 2010 untuk jurusan atau program studi Muamalah di Fakultas Syariah, UIN Walisongo.
Gadis berusia 22 tahun itu beruntung bisa masuk di kampus tersebut lantaran dibantu pemerintah melalui program Bidik Misi, hingga lulus dan berpredikat cumlaude dengan indeks prestasi kumulatifnya 3,84.Saat awal kuliah, Afidah mengaku hanya punya bekal keyakinan dan tekad yang kuat untuk bisa melanjutkan sekolah. Jalan untuk belajar pun rela ditempuh walaupun berliku.Saat beasiswa tak kunjung turun dari pihak kampus, Afidah mencari penghasilan lain dengan mengajar anak-anak kecil sekitar Pondok Pesantren Rumah Tahfidz Al Amna pimpinan Hj Siti Mariana Sofa di Jalan Taman Jeruk ll A10 Nomor 23 A, Perumahan Jatisari Permai, Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah.Upah atau bisaroh sebagai guru les privat baca tulis Alquran itulah sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk menutupi kebutuhan hidupnya selama berstatus mahasiswi.Dia melakukan hal itu seusai salat Ashar dan Maghrib lantaran tidak lagi bisa mengandalkan sokongan uang atau biaya hidup dari orangtuanya."Saya hanya bisa syukur, bisa diberikan jalan untuk kuliah ini. Kalau ada tekad untuk sekolah lagi, pasti akan ada jalannya. Yakin saja," ujar Afidah saat ditemui merdeka.com di sela-sela mengajar baca tulis Alquran, Jumat (30/1).Tekat kuat itulah yang menurut Afidah menjadi modal untuknya berani bertaruh melanjutkan kuliah. Kekurangan dana tak menjadi penghalang untuk belajar."Kalau memang ingin belajar, niat dan tekadnya harus ada. Pasti nanti ada jalannya," pungkas alumnus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal ini.
Ingin lanjut S2, Afidah berharap dapat beasiswa
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMeski dalam kondisi ekonominya yang terbatas, Afidah tetap bertekad untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi yaitu ingin kuliah S2."Kalau ada kesempatan untuk S2 ya masih pengen sekolah lagi. Jurusannya inginnya linear dengan S1 saya. Lebih ingin menekuni ekonomi hukum Islamnya. Mungkin karena sudah menikmati dengan jurusan itu. Ingin menggali lebih dalam. Terkait dengan lembaga keuangan Islam banyak sekali di Indonesia. Saya ingin menekuni itu," tegasnya saat ditemui merdeka.com Jumat (30/1).Apalagi, pihak kampus UIN Walisongo Kota Semarang memberikan kesempatan kepada wisudawan terbaiknya untuk mengenyam pendidikan magister dengan fasilitas beasiswa."Itu kalau di UIN Walisongo tempat saya kuliah dan diwisuda benar katanya yang terbaik atau cumlaude itu free bebas biaya kuliah S2 nya nanti," katanya.Saat disinggung jika pemerintah akan memfasilitasi Afidah untuk mengenyam pendidikan bidang perekonomian Islam S2-nya ke luar negeri seperti di Kairo, Arab Saudi atau Mesir, Afidah pun berminat. Namun, hingga saat ini dirinya tidak mau terlalu banyak berharap."Itu bonus tambahan lagi. Saya tidak mau terlalu muluk-muluk lah," jelasnya.Bagi Afidah, menjadi tenaga pendidik dan pengajar sangat penting. Menjadi pendidik, baginya bisa membuat kebahagiaan baik secara lahir maupun batin sehingga mendapatkan ketenangan."Pendidikan penting banget menurut saya. Transformasi ilmu ke orang lain prosesnya sangat panjang. Bisa memberikan kebahagiaan lahir batin. Lahirnya bisa tercukupi kebutuhan ekonominya. Secara batin hatinya tentram, damai dan bahagia," ucapnya."Belum punya pandangan apa nanti usaha apa yang saya tekuni. Saya lebih ke edukasi. Kayak dosen saya selama jadi dosen, mereka ada yang jadi pengacara, ada yang jadi pemilik BMT. Pokoknya seputar masih pendidikan keinginan saya," imbuhnya.
Diberi kejutan, orangtua Afidah nangis saat acara wisuda
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comBaidowi dan Aminah, orangtua dari Siti Afidah (22) seolah tak percaya saat melihat putri pertamanya meraih predikat wisudawati terbaik di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Kota Semarang, Jawa Tengah. Sebab, ketika Afidah meminta kedua orangtuanya mendampingi dirinya wisuda sama sekali tidak memberi kabar.Keduanya pun langsung menangis haru dan meneteskan air matanya saat mengetahui sang anak menjadi salah satu mahasiswa terbaik. Afidah rupanya memberi kejutan kepada orangtuanya tentang prestasinya itu."Saya tadi lihat di layar, kok yang maju Afidah. Tak lihat, lho... itu kan anak saya. Saat itu saya langsung ngrembes (menangis), ngucap syukur kepada Yang Di Atas. Anak saya ndak bilang kalau dia jadi yang terbaik. Dia hanya bilang wisuda saja," ungkap Baidhowi ditirukan Humas UIN Semarang Soim saat ditemui merdeka.com di kampus I UIN Walisongo Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (30/1).Baidhowi pun sumringah, bangga bercampur bahagia karena melihat anaknya berprestasi. Keluarga besarnya dari Kendal pun diajak untuk menonton proses wisuda Afidah.Kebanggaan Baidhowi semakin besar, apalagi mulai kuliah hingga wisuda anak pertama mereka ini tidak pernah mengeluh kekurangan uang. Demi kesuksesannya rela berjuang untuk memenuhi kehidupanya sendiri.Dengan program Beasiswa Bidik Misi bisa memenuhi sebagian kebutuhan hidupnya. Ketika kurang, Afidah pun tidak pernah meminta lagi dari orangtuanya yang hanya bekerja sebagai buruh tani itu.Afidah mengaku sengaja tidak menyampaikan kepada kedua orang tuanya jika dirinya merupakan wisudawati terbaik di kampusnya. Hal itu dilakukan karena selain dirinya larut dalam kesibukan mencari biaya kuliah tambahan, Afidah sengaja ingin memberikan kejutan ke kedua orangtua tercinta itu."Selain sibuk mengajar ngaji anak-anak, saya ingin beri kejutan bahagia ke orang tua saya tercinta. Makanya memberikan kabar ke ayah ibu saya pulang ke rumah sehari sebelum wisuda dilaksanakan kemarin," tuturnya.
Siti Afidah diminta tak jadi PNS
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comRektor UIN Walisongo Dr Muhibin M Ag menyampaikan pesan kepada Siti Afidah bahwa jangan sampai berorientasi menjadi pegawai negeri, karena peluangnya sangat sedikit. Muhibin meminta alumni UIN kelak bisa mandiri dengan wirausaha."Saya menganjurkan para wisudawan untuk berwirausaha agar bisa cepet berkembang dengan pesat. Kalau bisa berkembang buka peluang kerja baru agar bisa bermanfaat buat masyarakat. Mahasiswa UIN Walisongo jangan berharap jadi PNS sampai lima tahun ke depan," tuturnya.Muhibin meyakinkan jika seorang pengusaha sukses lebih bagus, apalagi bisa membuka lapangan kerja jika usahanya besar dan sukses. Ketimbang hanya berharap menjadi seorang PNS yang pada akhirnya saat di hari tuanya hanya mendapatkan jatah uang pensiunan saja."Alangkah baiknya alumni untuk berwirausaha nanti jika sukses berkembang dengan bagus buka peluang kerja nantinya bermanfaat untuk masyarakat. Kalau wirausaha kemajuan bisa pesat beda dengan pegawai negeri," ucapnya.
(mdk/ren)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya