Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ini teknik merebahkan hewan kurban sebelum disembelih

Ini teknik merebahkan hewan kurban sebelum disembelih hewan kurban. REUTERS

Merdeka.com - Pemotongan atau penyembelihan hewan kurban harus memenuhi beberapa aspek, sehingga diperoleh hasil sembelihan yang baik (thoyib) dan halal. Proses prapenyembelihan harus dipertimbangkan, karena tidak sedikit yang terjadi justru penganiayaan pada hewan kurban.

Walaupun sebenarnya tidak bermaksud menganiaya, namun karena tidak paham cara dan prosesnya tidak disadari menganiaya hewan tersebut.

"Misalnya menarik kedua telinga kambing saat akan direbahkan sebelum disembelih. Atau teknik merobohkan sapi yang salah sehingga diikat sani-sini," kata Daru, dokter hewan dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) di Malang, Kamis (16/9).

Daru memberikan materi teknik merebahkan hewan sebelum penyembelihan hewan kurban untuk para takmir masjid se-Kota Malang. Praktik diberikan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kota Malang.

Para takmir diajak praktik pengelolaan hewan korban dan pengemasan dagingnya, termasuk di dalamnya praktik merebahkan hewan. Sebanyak 95 takmir dan 15 perwakilan PKK mendapatkan materi pengelolaan hewan korban dan pengemasan dagingnya.

"Kuncinya tidak menganiaya hewan. Bahkan setelah dijatuhkan, domba sebaiknya ditutup matanya dengan daun telingganya, jangan menindih korban," katanya sambil mempratikkan.

Sementara untuk perebahan sapi, panitia harus menyiapkan tali yang cukup yang terbuat dari bahan rami. Usahakan bukan dari bahan plastik, agar tidak licin saat ditarik. Beberapa teknik pengikatan dan penarikan diberikan dalam pelatihan tersebut.

"Kalau untuk penyembelihan para takmir sudah paham, terpenting memutus saluran napas, makan dan darah yang ada di leher," tegasnya.

Selain itu, para peserta juga diajak mengenali hewan yang layak kurban (powel). Ciri-ciri yang harus dikenali adalah dengan melihat struktur gigi. Biasanya ada gigi dalam yang sudah hilang, atau gigi depan yang sudah ganti.

"Bisa dilihat giginya tidak rata, berarti sebagian sudah gigi baru," katanya.

Sementara dokter hewan Hilda Sari memberikan tips pengelolaan daging jeroan. Beberapa bagian, terutama hati dan jantung, akan ditemukan cacing fasiola yang membentuk rongga-rongga di dalamnya.

"Cara mengenalinya harus diraba, disayat. Kalau ada bungkul keras pasti ada cacing di dalamnya. Hati yang baik tentu yang berwarna merah dan segar. Kalau sudah ada cacingnya dibuang di bagian tersebut, atau dibuang keseluruhan lebih baik," urainya.

Memang, kata Hilda, cacing-cacing itu akan mati saat proses pemanasan saat dimasak. Tetapi dari unsur estetika, sangat tidak layak kalau hati yang sudah ada cacingnya diberikan orang lain atau dikonsumsi.

(mdk/hhw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP