Ini perintah Jokowi setelah teroris mau menyerang Istana Negara
Merdeka.com - Densus 88 berhasil menangkap empat tersangka teroris yang berencana meledakkan bom di depan Istana Merdeka saat pergantian jaga Paspampres hari Minggu 11 Desember 2016. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengapresiasi tindakan Densus 88 itu.
Pramono mengatakan, meski ada ancaman pengeboman, tidak ada peningkatan pengaman di lingkungan Istana. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Polri dan TNI untuk menangani ancaman terorisme sehingga tidak perlu ada penjagaan ketat di Istana.
"Tentunya tidak ada penambahan keamanan secara khusus di lingkungan Istana," kata Pramono di Jakarta, Selasa (13/12).
Pria kelahiran Kediri, Jawa Timur, 11 Juni 1963 ini menuturkan, Presiden Jokowi sudah memanggil Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolda Metro Jaya Irjen Mochammad Iriawan, dan Pangdam Jaya Mayjen Teddy Lhaksmana ke Istana Negara sebelum bertolak ke India melakukan kunjungan kenegaraan. Keempat orang itu diinstruksikan menjaga keamanan Tanah Air selama Jokowi di luar negeri.
"Secara khusus, Presiden sudah memanggil Kapolri, Panglima TNI dan Kapolda Metro Jaya juga Pandam Jaya, berkaitan dengan hal-hal yang ada, termasuk keamanan selama Presiden meninggalkan Indonesia dari tanggal 11-15 (Desember)," kata dia.
Pramono menambahkan, kecepatan Polri menangkap adanya indikasi aksi pengeboman patut diacungi jempol. Pasalnya, dengan begitu target tersangka terorisme mengebom Istana Merdeka tidak terjadi.
Sementara, di berbagai negara lain, dalam hari yang sama terjadi aksi pengeboman yang mengakibatkan sejumlah orang meninggal dunia.
"Di beberapa negara, di Kairo, kemudian di Turki, negara-negara lain (terjadi aksi pengeboman), alhamdulillah Indonesia bisa menangani dengan baik," ujar dia.
(mdk/ian)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya