Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ini cerita peserta kontingen menembak selama mengikuti event AASAM

Ini cerita peserta kontingen menembak selama mengikuti event AASAM TNI di AASAM 2016. ©2016 facebook.com/Aasam

Merdeka.com - Kemenangan kontingen menembak TNI AD di tingkat international pada event Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM) menambah daftar prestasi TNI AD sejak tahun 2008. Prestasi ini juga membuat Indonesia percaya bahwa generasi muda memiliki kualitas yang tidak kalah dengan negara lain.

Siahaan, peserta kontingen menembak AASAM mengaku sangat senang karena berhasil mempertahankan juara umum di tingkat international ini. Meski tantangan yang dihadapi di lapangan sempat menyulitkan.

"Sebenarnya kesulitan yang kita hadapi di sana itu kondisi cuaca, dingin dan angin yang kencang," kata pria yang berhasil menyabet 6 medali emas, satu perak dan dua perunggu ini di Ruang Serba Guna Mabes AD, Jalan Veteran nomor 5 Jakarta Pusat, Rabu (25/5).

Meski cuaca sangat berbeda dengan Indonesia, Siahaan mengaku tak putus asa. Dengan bekal latihan selama kurang lebih tiga bulan setelah melewati proses rekruitmen, cuaca dingin dan angin kencang bisa ditaklukkan dengan kelihaian menghitung knots.

"Di sana kita bisa atasi dengan program latihan yang keras, ketat dan baik yang kita laksanakan. Cuaca sangat mengganggu tapi karena kita sudah terbiasa, maka kekencangan angin bisa kita gerakkan dengan berapa knots dengan klik," ungkap dia.

Pria yang mendapat hadiah rumah dari Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Mulyono ini juga mengatakan kerja keras dan semangat peserta menjadi keunggulan tersendiri. Selama proses peletihan, mereka tidak pernah mengambil waktu istrahat meski hari libur.

"7 Hari dalam seminggu tetap kita latihan," sambungnya.

Dalam kesempatan yang sama, peserta kontingen penembak bernama Suyadi mengatakan waktu pelatihan untuk menyesuaikan cuaca di medan perlombaan hanya tiga hari. Peserta tiba di Australia pada tanggal 1 Mei dan perlombaan berlangsung pada tanggal 3 hingga 19 Mei.

Suyadi mengaku sempat mengalami kedinginan, namun dia mampu memenangkan kompetisi itu dengan bekal latihan yang matang selama di Indonesia.

"Medannya memang bagus cuma cuaca, kita kedinginan sampai 5-12 derajat. Tangan kita sampai kedinginan dan yang tidak kalah pentin angin. Kecepatan peluru bisa kalah dengan angin," jelas pria asal Jawa Timur ini.

Ditambahkan Warto, pelatih peserta kontingan, kondisi cuaca yang dingin dan angin kencang bisa dilewati dengan baik oleh peserta lantaran mereka sudah sangat pandai menghitung pergerakan angin.

"Angin bergerakn sekitar 4-12 knots. Nah ini untuk adaptasi memang menempatkan penembak kita di lapangan secara terus menerus sehingga perubahan setiap jarak akan kita hitung dengan grafitasi dan kecepatan angin harus kita hitung betul," ujar Warto.

Kendati telah meraih juara umum pada event Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM), Warto mengaku akan terus mengevaluasi dan memberikan latihan lebih maksimal kepada peserta kontingen menembak. Apalagi kompetisi pada tahun berikutnya akan lebih ketat.

"Pokoknya kita selalu berikan yang terbaik untuk bangsan dan negara," tandasnya.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP