Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ini alasan kenapa umat Islam masih banyak yang miskin di Indonesia

Ini alasan kenapa umat Islam masih banyak yang miskin di Indonesia Ilustrasi kemiskinan. ©2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Ketua Umum Gerakan Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI), Imam Tholkhah mengungkapkan berbagai problematika yang terjadi dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Ia menilai, pendidikan Islam di Indonesia masih gagal dalam membina karakter anak bangsa.

"Pendidikan Islam masih dinilai gagal membina karakter. Sehingga munculah berbagai fenomena seperti pergaulan bebas di kalangan remaja, tindak kekerasan hingga penyalahgunaan narkotika," kata Imam Tholkhah dalam acara Rapat Pleno Dewan Pertimbangan MUI, Revitalisasi Pendidikan Islam: Problematika dan Solusi di Jakarta, Selasa (24/2).

Aspek-aspek lingkungan keluarga, sosial dan media juga mengambil peran dalam pembentukan karakter anak bangsa. Secara tidak langsung, pihak-pihak tersebut mengambil peran dalam penerapan pendidikan Islam. Tak hanya itu, pendidikan Islam juga gagal menciptakan kesejahteraan umat.

"Gagal menciptakan kesejahteraan umat. Pada aspek kesejahteraan sosial masih banyak umat Islam yang miskin, meski tidak banyak juga yang berhasil," kata dia.

Permasalahan lainnya, yaitu kualitas pendidikan Islam tingkat dasar dan menengah memprihatinkan. Banyak lembaga Islam banyak yang kondisinya memprihatinkan. Terutama di daerah pelosok dan daerah yang muslim sebagai kaum minoritas. Kekurangan tenaga pengajar agama Islam juga menjadi permasalahan utama di daerah pelosok.

Tak hanya itu, ia juga memaparkan, ada banyak anak muslim yan sekolah di sekolan non-muslim tetapi diajarkan agama Islam bukan oleh guru agama Islam. Melainkan oleh guru agama non-muslim.

Sementara kualitas pendidikan pesantren yang ada dinilai belum menggembirakan. Pesantren salafi jumlahnya juga makin menurun. Fokus pengajian kitab kuning menurun.

"Adanya pesantren berbasis wahabi yang bagus namun keberadaannya dicurigai sebagai pesantren berpotensi radikalisme," ungkapnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan, lembaga tinggi pendidikan agama Islam kualitasnya masih rendah. Dari sekian banyak PTAI yang ada di lingkungan kementerian agama masih banyak yang belum terakreditasi. Hanya 9 persen yang akreditasinya A, semetara sisanya masih B, C atau belum terakreditasi.

Terbatasnya pendidikan Islam pada perguruan tinggi umum juga menjadi masalah lain. Pada umumnya mahasiswa Islam memiliki keterbatasan dalam akses pendidikan Islam.

"Kemampuan baca Alquran mahasiswa sekitar 50 persen tidak bisa. Hanya ada 2 SKS di awal semester dan kurangnya dosen agama Islam sehingga metodenya hanya lewat ceramah umum," terang dia.

Menurut dia, akar sumber permasalahan dalam pendidikan Islam berpusat pada Sumber Daya Manusia. Sumber daya pendidik dan sarana prasarana juga belum memadai. Selain faktor eksternal yang memengaruhi seperti terpaan arus globalisasi dan teknologi yang berkembang sangat cepat.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP