Hubungan mesra Rusia dan Indonesia di udara
Merdeka.com - Sejumlah maskapai penerbangan Indonesia awalnya berniat membeli Sukhoi Superjet 100. Belum dipastikan apakah buntut kecelakaan Sukhoi di Gunung Salak akan membuyarkan rencana pembelian tersebut. Namun melihat sejarah, hubungan Indonesia dan Rusia memang sempat mesra di udara.
Periode 1960, pesawat penumpang Tupolev Tu-134 kerap mondar mandir di Lapangan Terbang kemayoran, Jakarta. Mesranya hubungan poros Moskow-Peking-Jakarta turut berpengaruh pada dunia penerbangan sipil dan militer.
Di bidang militer, hubungan Indonesia dan Uni Soviet semakin dekat. Apalagi saat itu Presiden Soekarno jelas-jelas menentang hegemoni Blok Barat. Indonesia pun berpaling ke Blok Timur yang dimotori Uni Soviet dan Rusia di dalamnya. Sejumlah perwira dikirim ke Rusia untuk membeli pesawat militer. Beberapa merupakan pesawat paling canggih di zamannya.
Berikut daftar pesawat yang dibeli Indonesia dari Uni Soviet dalam periode 1960-an:
1. 41 helikopter Mi-4
2. 9 helikopter Mi-6
3. 8 helikopter SM-1
4. 6 pesawat An-12B
5. 30 pesawat MiG-15
6. 49 pesawat Mig-17
7. 10 pesawat MiG-19
8. 20 pesawat MiG-21
9. 12 pesawat Tu-2
10. 14 pesawat Tu-16 KS
11. 22 pesawat IL-28
Dengan pesawat pemburu jenis MiG berbagai jenis, Indonesia menjadi diperhitungkan. Tak hanya itu, pembom jarak jauh TU-16 KS juga tergolong sangat canggih saat itu. Bahkan di kalangan Blok Timur, tidak semua negara diizinkan Soviet memilikinya.
Kemudian angin politik berubah. Komunis kalah tahun 1965. Soeharto enggan meneruskan hubungan yang sudah terjalin baik dengan pihak Uni Soviet dan Rusia yang merupakan pusat kekuatan komunis. Sebagai gantinya, Soeharto mendekati Blok Barat. Dari Australia, Indonesia mendapat satu skuadron pesawat F-86 Avon Sabre tahun 1973. Kemudian AS memberi pesawat latih T-33 T-Bird.`
Pada periode 1980-an, pesawat-pesawat Blok Barat kembali berdatangan. 16 Unit A-4 Sky Hawk dari AS, serta 12 F-16 dari AS. Datang pula pesawat-pesawat Hawk MK-53 dari Inggris. Ada juga pesawat F-5 Tiger dari AS. Tahun 1990-an, hampir tidak ada penambahan pesawat tempur baru.
Baru setelah reformasi, Indonesia mulai melirik Rusia kembali. Kali ini pilihan jatuh pada pesawat tempur Sukhoi SU-27 MK dan SU-30 MK. Sejak tahun 2003, 10 jenis pesawat ini telah berdatangan memperkuat TNI AU. (mdk/war)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya