Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Harumkan Indonesia dari Papua

Harumkan Indonesia dari Papua Harumkan Indonesia dari Papua. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - PT Freeport Indonesia telah menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak 50 tahun yang lalu. Selama 50 tahun Freeport Indonesia bahu membahu dengan segenap pemangku kepentingan dalam mengoperasikan kegiatan pertambangan guna memberi manfaat berkelanjutan kepada negara, pemerintah daerah, masyarakat adat setempat, pekerja perusahaan dan kontraktornya, serta pemegang saham perusahaan.

PTFI beroperasi di daerah terpencil dengan kondisi lingkungan yang sulit di Papua, Indonesia dan menerapkan teknologi terbaik dan praktik terkini dalam operasinya. Freeport Indonesia berkarya dan berkontribusi bersama untuk negeri tercinta, Indonesia.

Meningkatkan Kesehatan

"Pemda sangat terbantu terutama dalam inovasi dukungan akses pesisir laut dan udara, karena Pemda kesulitan mengakses puskesmas puskesmas di pegunungan. Dalam kemitraan dengan Freeport, kami dibantu dalam mengatasi keterbatasan sumber daya.” - Saiful Taqim, Staf Ahli Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika.

Freeport Indonesia telah membangun dua rumah sakit, tiga klinik umum, dan dua klinik spesialis yang memberikan pelayanan kesehatan gratis. Hingga saat ini telah tercatat rata-rata kunjungan pasien mencapai 154.343 pasien ke rumah sakit dan 64.142 pasien ke klinik umum dan spesialis (2016).

Freeport Indonesia melalui program kesehatan bersama pemerintah daerah, juga berhasil menurunkan kasus malaria hingga 70 persen sejak 2011. Kemudian juga meningkatkan angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis di klinik CHD hingga 99 persen (di mana standar WHO adalah 85 persen).

Freeport Indonesia bermitra dengan pemerintah daerah dalam mendukung mobilisasi transportasi udara bagi pasien darurat medis. Kemudian, salah satu bentuk dukungan di sektor kesehatan adalah inovasi pelayanan klinik terapung, yang memberikan frekuensi layanan terjadwal dan akses layanan kesehatan dasar yang lengkap termasuk untuk bedah minor.

Klinik terapung berupa kapal berukuran 17 X 5 meter, berkapasitas 13 penumpang. Kapal dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti 3 ruang tidur, ruang pemeriksaan, ruang observasi atau trauma, area laboratorium mini, dan ruang obat. Klinik terapung ini juga dilengkapi alat medis bedah minor, serta alat medis pemeriksaan.

Memajukan Pendidikan

"Kami percaya apa yang sudah Freeport Indonesia buat untuk kami pasti besar manfaatnya untuk kami ke depan. Walaupun kami awalnya tidak berani bermimpi, namun sekarang kami mampu dan bisa," kata Baldus Ambrauw (putera Papua peraih Sarjana ITB melalui program Papuan Bridge Program)

Sebagai upaya mendorong terwujudnya Indonesia Berprestasi, Freeport Indonesia telah lama memberikan beasiswa, mendirikan dan mengelola asrama pelajar, bantuan infrastruktur dan operasional pendidikan. Hingga saat ini telah dibangun 5 asrama pendidikan untuk putera-puteri Papua (di Papua dan pulau Jawa), telah 10.145 beasiswa diberikan sejak 1996, dan telah 67 beasiswa diberikan untuk putera-puteri Papua melanjutkan studi ke luar negeri.

PTFI membangun Institut Pertambangan Nemangkawi, yaitu balai latihan kerja dengan program pra-magang, pendidikan untuk dewasa, magang dan Administrasi Niaga D3. Hingga saat ini telah tercatat 4.152 siswa magang, di mana 91 persen adalah siswa asli Papua dan telah 2.927 siswa sudah bekerja di Freeport Indonesia dan kontraktornya.

Bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung, Freeport Indonesia menyelenggarakan program beasiswa Papuan Bridge Program, program pengembangan untuk mahasiswa Papua yang telah lulus dari universitas dan akan terjun ke dunia usaha/kerja. Sudah empat putera asli Papua di wisuda pada 2017 dan menyandang gelar Sarjana Pertambangan dari ITB melalui program ini.

Peningkatan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat

"Tidak dapat dipungkiri, lebih dari empat dekade Freeport telah menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi Mimika," ungkap Septinus Soumilena, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Kadisnaker) Kabupaten Mimika.

Pada saat Freeport Indonesia mulai beroperasi tahun 1967, populasi Mimika masih di bawah 1.000 orang. Namun saat ini, Mimika termasuk daerah dengan tingkat migrasi terbesar di Indonesia, dengan populasi mencapai 250.000 orang. Menurut kajian LPEM UI, operasi PTFI di Papua dan Indonesia berkontribusi pada 91 persen PDRB Kabupaten Mimika, 37,5 persen pada PDRB Papua dan 0,8 persen pada PDB Indonesia.

Selama hampir lima dekade, Freeport Indonesia bekerja sama dan memberikan kontribusi terhadap pendapatan domestik bruto nasional sebesar lebih dari USD 60 miliar.

Kontribusi finansial untuk Indonesia secara manfaat langsung (dalam bentuk pajak, royalti dividen, bea dan pembayaran lain) adalah sebesar USD 424 juta (2016) dan total sebesar USD 16,6 miliar (untuk kurun waktu 1992-2016). Sedangkan manfaat tidak langsung (dalam bentuk pembayaran gaji karyawan, pembelian dalam negeri, pengembangan masyarakat, pembangunan daerah dan investasi dalam negeri) adalah sebesar USD 3,3 miliar (2016) dan total sebesar USD 35,7 miliar (untuk kurun waktu 1992-2016).

Freeport Indonesia telah menciptakan 238.000 kesempatan kerja (128.000 lapangan kerja di Papua dan 110.000 lapangan kerja di luar Papua).

Hingga akhir 2016, Freeport Indonesia telah menyerap tenaga kerja sebanyak 33.452 orang, di mana 12.184 adalah pekerja langsung dengan 4.357 merupakan pekerja asli Papua (35,76 persen). Sedangkan sejak 1996, jumlah karyawan asli Papua yang memegang posisi manajemen strategis telah berlipat ganda, saat ini terdapat 6 Vice President asli Papua dan 40 manajer dan karyawan level senior asli Papua. Selain itu telah ada 29 operator Haul Truck wanita.

Freeport Indonesia juga menjadi penggerak utama ekonomi Mimika dengan bantuan dana pengembangan masyarakat mencapai USD 1,46 miliar (untuk kurun waktu 1992-2016). Dimana saat ini, pada 2016, melalui program Ekonomi Mandiri dan Dana Bergulir LPMAK, telah membantu 6.683 kelompok usaha dengan total bantuan Rp. 233,4 miliar, pendampingan UKM sebanyak 162 pengusaha (di mana 35 persen adalah pengusaha perempuan) dan pengembangan usaha masyarakat berbasis desa berupa 186 hektar lahan kakao, 23,4 hektar lahan kopi, dan 80.000 ayam ternak.

Tidak hanya itu, Freeport Indonesia sadar bahwa infrastruktur adalah penting untuk kemajuan suatu daerah. PTFI lantas membangun 3.200 unit rumah, lengkap dengan fasilitas umum dan fasilitas sosial sejak 1997. Selain Bandara Timika, untuk membuka akses ke daerah-daerah terpencil, juga telah dibangun dua lapangan terbang perintis di desa Tsinga dan desa Aroanop.

Selain itu, untuk menumbuhkembangkan talenta-talenta olahraga dari tanah Papua, yang mampu berperestasi di tingkat nasional, regional dan internasional, Freeport Indonesia juga membangun kompleks olahraga di Timika senilai USD 33 juta. Fasilitas terdiri dari 1 indoor stadium, 1 lapangan atletik, 2 asrama atlet dan 1 bangunan penunjang.

(mdk/hrs)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP