Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Hari Ini, KPK Panggil Sejumlah Dirut Terkait Tersangka Sofyan Basir

Hari Ini, KPK Panggil Sejumlah Dirut Terkait Tersangka Sofyan Basir Dirut PLN Sofyan Basir ke KPK. ©2018 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Direktur Utama PT Samantaka Batubara AM Rudi Herlambang.

Dia dijadwalkan menjalani pemeriksaan sebagai saksi kasus suap PLTU Riau-1 untuk tersangka Direktur Utama PLN non-aktif Sofyan Basir (SFB).

"Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi SFB," ucap Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi awak media, Selasa, (30/4).

Sebelumnya, Rudi juga pernah bersaksi pada kasus yang sama dengan terdakwa mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam kesaksiannya kala itu, Rudy mengaku dikenalkan kepada Eni oleh pengusaha Johannes Budisutrisno Kotjo. Johannes adalah bos perusahaan Blackgold Natural Resources yang disebut memberi suap kepada Eni agar proyek PLTU Riau-1 ditangani perusahaannya.

Rudy membantu Johannes Kotjo bertemu pihak PLN. Adapun maksud dari bantuan Eni tersebut adalah untuk mempercepat proses sampai kepada penandatanganan dari (proyek) PLTU Riau-1.

Selain Rudi, KPK juga memanggil empat saksi lainnya untuk tersangka Sofyan Basir. Mereka adalah mantan Dirut PT Samantaka Batubara, Dirut PT Tri Mitra Bayany Sudjono, pegawai PT Pembangkit Jawa Bali Wiladan Baina Iedai.

Kemudian, Direktur Keuangan PT PLN Sarwono Sudarto.

KPK menetapkan Sofyan sebagai tersangka karena diduga menerima suap dari pemegang saham Blackgold Natural Resources Johannes Budisutrisno Kotjo, Selasa 23 April 2019 kemarin.

Menurut KPK, Johannes Kotjo mencari bantuan agar diberikan jalan untuk berkoordinasi dangan PT PLN untuk mendapatkan proyek "Independent Power Producer" (IPP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang RIAU-1 (PLTU MT RIAU-1).

Diduga, telah terjadi beberapa kali penemuan yang dihadiri sebagian atau seluruh pihak, yaitu Sofyan Basir, Eni Maulani Saragih, dan Johannes Kotjo membahas proyek PLTU.

Pada 2016, meskipun belum terbit Peraturan Presiden Nomor 4 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan yang menugaskan PT PLN menyelenggarakan Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan (PIK), dalam pertemuan tersebut diduga Sofyan telah menunjuk Johannes Kotjo untuk mengerjakan proyek di Riau (PLTU Riau-1) karena untuk PLTU di Jawa sudah penuh dan sudah ada kandidat.

Kemudian, PLTU Riau-1 dengan kapasitas 2x300 MW masuk dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.

Johannes Kotjo meminta anak buahnya untuk siap-siap karena sudah dipastikan Riau-1 milik PT Samantaka.

Setelah itu, diduga Sofyan Basir menyuruh salah satu Direktur PT PLN agar "Power Purchase Agreement" (PPA) antara PLN dengan Blackgold Natural Resources dan China Huadian Engineering Co (CHEC) segera direalisasikan.

Sampai dengan Juni 2018, diduga terjadi sejumlah pertemuan yang dihadiri sebagian atau seluruh pihak, yaitu Sofyan, Eni Maulani Saragih, dan Johannes Kotjo serta pihak lain di sejumlah tempat seperti hotel, restoran, kantor PLN, dan rumah Sofyan.

Reporter: Ady Anugrahadi (mdk/rhm)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP