Hari Ibu, Anies teringat perjuangan sang nenek Barkah AR Baswedan
Merdeka.com - Calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memiliki kisah tersendiri dalam rangka memperingati hari ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember. Anies mengatakan peringatan hari ibu bermula dari kongres perempuan pertama kalinya di Indonesia. Salah satu pesertanya adalah Barkah AR Baswedan yang tak lain adalah nenek Anies.
Anies bercerita, tahun 1928 neneknya kala itu hendak dari Tegal ke Yogyaarta untuk menghadiri kongres perempuan pertama di Indonesia. Namun sesampainya di di stasiun para peserta tidak diperbolehkan untuk menumpang kereta padahal sudah membeli tiket.
"Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka beramai-ramai berbaring di atas rel di depan lokomotif. Akhirnya karena melihat hal seperti itu, maka mereka diperbolehkan untuk menumpang kereta hingga ke Yogyakarta," cerita Anies di Jakarta, Rabu (21/12).
Mantan Mendikbud itu mengatakan dirinya merupakan produk dari seorang ibu yang terdidik dan sekolah. Kongres perempuan tersebut membuka pintupendtingnya pendiidkan bagi kaum perempuan.
"Makanya kalau buat saya pribadi hari ibu ini bukan karena ibu saya tapi bagi kami keluarga kami bagian dari hari ibu itu. Bukan hanya karena hari ibu tetapi saya teringat almarhumah nenek yang dia hibahkan seluruh hidupnya untuk kehidupan perempuan," tutur Anies.
Hingga usianya 94 tahun Anies mengatakan sang nenek terus memikirkan gerakan perempuan. Maka bagi dirinya hari ibu bukanlah sebagai peringatan biasa tapi sebagai catatan keluarga ketika ikut dalam pergerakan tersebut.
"Ini sebenarnya hanya catatan pribadi kami, tetapi karena itu kami memiliki komitmen untuk memiliakan perempuan. Kenapa? Kaena kita-kita ini kalau enggak ada ibu yang terdidik enggak jad nih seperti ini. Kalau soal perempuan ini bukan sekedar kampanye tapi alasan kita kita bisa seperti ini," ungkap Anies.
Anies menyatakan konsep perempuan adalah berasala dari kata empu yang berdasarkan naluri seorang ibu. Sebab karena dia hadir sebagai penopang atau mewakili suami, anak, dan lingkungan. Sementara kata wanita dia hanya sendiri.
"Saya enggak tahu kalau kongres perempuan kenapa hasilnya menjadi peringatan hari ibu tetapi konsep perempuan itu ditopang oleh konsep ibu bukan konsep wanita," ujar Anies.
Anies juga bercerita bahwa neneknya pada pelaksanaan pemilu pertama tahun 1955 berkeliling Indonesia untuk mengkampanyekan bahwa perempuan juga berhak nyoblos. Sebab saat itu beredar gossip bahwa perempuan tidak boleh ikut memilih dalam pemilu. "Hanya kaum laki-laki saja yang boleh ikutan nyoblos," ucap Anies.
"Makanya saya ini kalau suatu saat di alam berikutnya ketemu nenek saya dan ditanya ‘ Nis kamu ngapain buat perempuan?’ saya malu enggak bisa jawab," ujarnya.
Anies menambahkan cerita tentang sang nenek selalu didengungkan oleh mantan menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Linda Gumelar. Menteri era pemerintahan SBY ini selalu menceritakan kisah perjuangan sang nenek.
"Kalau dulu cerita ini selalu didengungkan oleh Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ibu Linda Gumelar. Nah kalau yang sekarang saya kurang tahu," tutup Anies.
(mdk/rhm)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya