Hal-hal unik di pesantren yang belum banyak diketahui orang
Merdeka.com - Tak banyak orang berani memutuskan untuk menjadi santri. Pasalnya metode pendidikannya dengan cara mengkarantina kemajemukan berbagai orang dalam sebuah lembaga pendidikan tradisional. Namun mereka yang benar-benar ingin tak asosial dan mendapat berkah dari para ulama akan kerasan di sana. Karena jauh dari orangtua, mereka akan menanggap siapapun di pondok sebagai keluarga. Bahkan kerap menghormati tetua dan murni memiliki motivasi untuk menempa diri agar dapat banyak ilmu.
"Ada 2 hal yang membuat para santri betah dan bangga, yaitu ikhlas dan ngalap berkah. Mendapatkan kebaikan karena berdekatan dan menimba ilmu dari para ulama dan orang-orang sholeh," kata mantan santri yang belasan tahun menempa diri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Slamet Abdul Qohar kepada merdeka.com, Jumat (23/10).
Qohar misalnya, sejak pertama masuk ke pesantren, sudah sadar bahwa tidak ada jaminan mendapatkan kerja setelah lulus dari pondok pesantren. Di sisi lain karena bukan jenjang pendidikan resmi yang diakui negara, maka pondok pesantren tak memberikan gelar resmi pada siswa yang berhasil lulus. Dibandingkan ilmu yang bisa dibagikan pada sesama, gelar bukan menjadi bagian penting bagi sebagian besar santri.
"Di pesentren kita diajarkan makna hidup yang sebenarnya. Uang dan gelar merupakan bagian penting dalam hidup namun mengajar ilmu agama dan menyebar kebaikan merupakan inti hidup yang paling hakiki," tuturnya.
Di sisi lain, menurut Qohar, para kiai di Pondok Pesantren Bahkan para kyai Lirboyo, selalu berpesan, 'Jika sudah terjun di masyarakat, jangan lupa mengajar. Kalian tidak akan kekurangan gara-gara mengajar' pesan tersebut mengendap di hati para santri dan selalu mereka ingat.
Namun di era kekinian, beberapa pondok pesantren memilih untuk mengembangkan pesantren seiring dengan perkembangan zaman. Mereka memperbolehkan para santri untuk menempuh pendidikan formal di luar pondok pesantren. Namun ketika proses belajar mengajar usai, mereka harus kembali dan menjalani rutinitas pesantren. Bagi Qohar, fenomena tersebut merupakan tuntutan zaman, para santri tidak hanya mencari berkah. Lebih dari itu, sebagian besar dari mereka mencari berkah sekaligus mendapat ijazah formal.
"Sebagian santri, selain menuntut ilmu agama, juga sekolah formal. Semata-mata bukan karena menyimpang dari platform ikhlas dan ngalap berkah namun lebih kepada persiapan santri yang akan terjun di masyarakat. Singkatnya begini. Setelah kita lulus dari pesantren, tentunya kita akan berjuang di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai profesi. Dari yang menjadi kiai, ustaz, guru, dosen bahkan juga politikus, wartawan, pengacara, dll. Dari profesi-profesi tersebut ada yang menyaratkan ijazah formal untuk menempuh pendidikan lebih lanjut. Nah, di situlah perlunya persiapan sekolah formal bagi santri," terang dia.
Di lain hal, terhadap para santri ternyata pandangan masyarakat beragam (mdk/rnd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya