Hacker Surabaya Black Hat sering diminta kelola sistem IT instansi
Merdeka.com - Tiga hacker anggota Surabaya Black Hat (SBH) ditangkap polisi dalam kasus peretasan 3.000 sistem elektronik dan 600 website di 44 negara. Penasihat SBH, Zulham Akhmad Mubarrok mengaku kelompoknya adalah komunitas yang membahas hal-hal terkait informasi dan teknologi.
"Kami berdiri sejak 2011. Saat itu yang memprakarsai ada belasan orang, baik dari Surabaya maupun Malang dan beberapa kota lain di Jawa Timur," ujar Zulham, Rabu kemarin.
Dia mengatakan, hingga saat ini anggota Surabaya Black Hat yang aktif pada forum diskusi terbuka mencapai 2.000 orang. Sedangkan anggota yang aktif kopi darat di Surabaya hanya puluhan orang saja.
Zulham mengaku, Surabaya Black Hat sering mendapat job resmi dari instansi-instansi untuk menciptakan hingga mengelola sistem IT mereka. Ia juga mengklaim ikut 'membela' saat hacker asing meretas situs di Indonesia.
"Jadi, kegiatan kita 90 persen adalah kegiatan IT positif. Jika ada yang melanggar UU ITE atau kriminal lainnya, itu di luar ketentuan kami. Sebab, sejak berdiri, kami terapkan aturan tegas di grup," katanya.
Surabaya Black Hat sendiri dalam aplikasinya di lapangan, memiliki sejumlah komunitas lainnya. Antara lain Indonesian Coder, Malang Cyber Crew, dan masih banyak lagi.
"Jadi sekali lagi, 90 persen kegiatan SBH adalah IT secara positif. Sebab kami selalu mengadakan pertemuan rutin untuk mengarahkan para hacker milenial agar dapat mengaplikasikan kemampuannya pada hal yang positif," ucapnya.
Zulham menegaskan aksi KPS, NA, dan ATP yang membobol ribuan sistem di luar ketentuan organisasi Surabaya Black Hat.
"Dari ketiga anggota yang ditangkap, yang paling lama menjadi anggota Surabaya Black Hat adalah KPS. Sementara NA dan ATP menyusul kemudian," ujarnya.
Sumber: Liputan6.com
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya