Gus Miftah disarankan konsultasi dengan MUI soal syariat berselawat di kelab malam
Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi VIII dari Fraksi Partai Gerindra Sodik Mujahid mengapresiasi KH Miftah Maulana Habibburahman atau Gus Miftah menggelar ceramah, selawat dan salat berjemaah di tempat hiburan malam di Bali. Meski begitu, Sodik tetap menyarankan Gus Miftah berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait syariat berselawat di kelab malam tersebut.
"Jadi kita sampaikan apresiasi untuk semangat dan tekadnya dakwah di kelab. Soal hukum baca selawat wanita seksi di kelab tersebut secara syariah MUI yang akan menilainya," kata Sodik saat dihubungi merdeka.com, Kamis (13/9).
"Tentang efektivitas dan dampak dari dakwah tersebut Gus Miftah perlu melakukan evakuasi secara cermat dan objektif. Baik oleh Gus Miftah sendiri atau lembaga dakwah untuk jadi dasar pelaksanaan dakwah selanjutnya," sambungnya.
Menurut Sodik, dakwah bisa dilakukan untuk siapapun termasuk para pegawai kelab malam. Selama dakwah tersebut dilakukan sesuai syariat.
"Dakwah itu memang untuk semua golongan dan bisa dilaksanakan dengan semua cara yang baik, efektif, sesuai kode etik dakwah. Para wanita berpakaian seksi di kelab dan tempat yang namanya kelab juga adalah sasaran dakwah," ungkapnya.
Sebelumnya, sebuah video merekam kegiatan dakwah Gus Miftah dengan berpakaian kemeja di depan tamu kelab malam di Bali beredar luas di media sosial hingga menjadi perbincangan. Di video itu juga terekam suasana saat Gus Miftah memberikan ceramah.
Sejumlah wanita bergaun merah sedikit terbuka, tampak menyimak yang disampaikan Gus Miftah. Walaupun sesekali ada juga yang tampak berbincang sambil menenggak air di gelas.
Berdiri di atas panggung kecil, Gus Miftah kemudian mengajak semua yang hadir di kelab malam itu mengumandangkan takbir. Dia juga meminta bersalawat bersama. Seisi ruangan mengikuti.
Marketing Manajer Boshe VVIP CLub Bali, Deddy Lie, mengakui adanya kegiatan itu. Dia mengaku manajemen memang mendukung kegiatan tersebut.
"Ya pasti dong," katanya saat dihubungi merdeka.com, Rabu (12/9).
Ditemui di Pondok Pesantren Ora Aji, Dusun Tundan, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Gus Miftah mengaku berceramah di tempat hiburan malam bukan hal baru.
"Sudah delapan tahun ini (memberikan ceramah di Boshe Bali). Setiap tahun selalu ceramah di Boshe Bali. Pas acara ulang tahun atau acara lainnya. Selonggar waktunya tapi rutin mengisi di sana," ujar lelaki berusia 37 tahun ini, Rabu (12/9).
Gus Miftah menerangkan jika selain di Bali, beberapa kelab malam di berbagai daerah juga pernah menjadi tempatnya berceramah. Bahkan di Yogyakarta, Gus Miftah sudah sejak belasan tahun yang lalu rutin menggelar ceramah dan selawatan di tempat hiburan malam.
"Di Boshe Yogyakarta, rutin saya isi (ceramah). Dua pekan sekali saya isi biasanya. Kelab dan kafe lain di Yogyakarta juga rutin saya pakai ceramah. Sudah sejak 12-13 tahun yang lalu saya lakukan," ungkap Gus Miftah.
Gus Miftah menambahkan selain ceramah di tempat hiburan malam, dirinya juga kerap berceramah dan pengajian bersama pekerja seks komersial. Baik itu di salon plus maupun di lokalisasi.
"Jadi yang kontroversial itu karena tempatnya. Itu kan cuma masalah adab, etika dan lainnya. Saya paham itu. Saya enggak masalah. Saya enggak terganggu, enggak apa-apa," tutup Gus Miftah.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya