Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Gigolo nongkrongnya di kafe, nego kencan lewat HP

Gigolo nongkrongnya di kafe, nego kencan lewat HP Ilustrasi. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman

Merdeka.com - Pemerintah Desa Bakulan dan Desa Cabean Kecamatan Cepogo, Boyolali membantah keras jika di desanya terdapat komunitas pekerja seks pria atau gigolo terlebih seorang mucikari. Apalagi mereka suka mangkal di jalan-jalan seputar desa mereka. Padahal kondisi di desanya sebagian besar merupakan lahan hutan, dan tidak terdapat tempat-tempat nongkrong seperti kafe atau lainnya.

Kaur Pemerintahan Desa Bakulan, Amin Mustofa saat ditemui merdeka.com mengemukakan hal tersebut. Menurut dia, warga desanya terutama pemudanya, termasuk masyarakat yang berpendidikan. Sehingga jarang sekali ditemui anak putus sekolah.

"Di desa kami ini sekolah dari TK sampai SMA ada. Sehingga sebagian besar warga kami minimal lulusan SMA. Tidak ada yang putus sekolah," ujar Amien saat ditemui merdeka.com, Selasa (13/10).

Dia membantah jika ada pemuda di desanya yang putus sekolah dan bekerja sebagai gigolo. "Saya tidak tahu dan tidak yakin ada warga kami yang seperti itu. Kalau mereka lulus SMA biasanya ke proyek di luar kota atau bekerja ke pabrik," katanya.

Kaur Pemerintahan Desa Cabeankunthi, Yafiq Rony mengemukakan hal yang sama. Dia membantah jika ada warganya yang berprofesi seperti itu. "Di sini ada satu waria saja terkena kasus curas. Sekarang masih proses persidangan," ucapnya.

Di desa yang berpenduduk 1800 orang tersebut sebagian pemuda bekerja di pabrik dan proyek di berbagai kota. Baik di Jawa, luar jawa maupun di luar negeri.

"Pemuda di sini banyak yang ikut proyek pemasangan AC di Solo, Jakarta, Kalimantan dan ada yang sampai ke Timor Leste dan Arab Saudi segala," tuturnya.

Kanit Sabhara Polsek Cepogo, Boyolali, Aiptu Budi Sri Widodo tak membantah jika masyarakat dan pemerintah desa tidak mengetahui kegiatan negatif warganya, termasuk di antaranya menjadi gigolo.

"Mereka itu kan bekerjanya, kencannya melalui handphone, jadi kalau ada yang butuh tinggal telepon saja. Lewat telephone mereka juga bias lebih bebas membicarakan harga, atau sesuatu yang sangat rahasia," katanya.

Tetapi Budi menegaskan sekarang sudah tidak ada lagi pemuda di sana yang berprofesi sebagai Gigolo.

"Sekarang kan sudah tidak ada. Dulu memang ada beberapa. Tapi mereka dibawa ke Bandungan (Semarang). Mucikari juga tidak ada seperti yang diberitakan. Itu kan gaya hidup anak-anak muda yang rata-rata pengangguran. Mereka ingin dapat uang dengan cara pintas dan mudah," pungkasnya.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP