Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Getirnya hidup Tirto di Hari Nelayan Nasional

Getirnya hidup Tirto di Hari Nelayan Nasional Nelayan di Pantai Kelan. ©2018 Merdeka.com/Moh Khadafi

Merdeka.com - Ratusan perahu fiber nelayan terpakir rapi di atas pasir yang putih Pantai Kelan. Para nelayan, di bawah sinar sore sudah mulai berdatangan ke Pantai Kelan, yang terletak di Desa Kelan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

Pantai Kelan, yang satu garis dengan Pantai Kedonganan dan Jimbaran, memang dikenal oleh masyarakat sebagai tempat para nelayan memarkirkan perahu fiber dan Jukung.

Di antara hiruk-pikuk para nelayan yang sedang mempersiapkan segala keperluan untuk belayar, atau bergotong-royong mengangkat perahu ke tepi laut untuk berlayar, terlihat seorang pria berbadan tambun, mengenakan sarung berwana hitam dengan corak garis vertikal.

Sedangkan, kaos oblongnya disandangkan ke bahunya, sambil bertelanjang dada dan mengisap rokok filter merek Surya, ia sibuk memperbaiki jaring ikan di perahu fiber milik juragannya.

Tirto, begitulah panggilan akrab para nelayan saat menyapanya. Pria asal Desa Karang Tengah, Kecamatan Temporan, Kabupaten Jember, Jawa Timur ini, sudah sejak tahun 2001 menjadi seorang nelaya di Pantai Kelan.

nelayan di pantai kelan

Nelayan di Pantai Kelan ©2018 Merdeka.com/Moh Khadafi

Saat ditemui, pria yang berusia 72 tahun ini, membuka senyum ramah. Di bawah pohon Waru yang rindang Tirto sudih berbagai cerita tentang kehidupannya sebagai nelayan, setelah diberi tau bahwa pada tanggal 6 bulan April 2018, adalah Hari Nelayan Nasional Indonesia yang ke- 58.

"Kehidupan nelayan itu tergantung cuaca, jika angin barat tentunya para nelayan tak bisa melaut karena badai cukup besar, tetapi jika musim angin timur cuaca stabil dan bisa melaut lagi," ucapnya.

Tirto juga mengungkapkan, jika cuaca buruk dan tak bisa mencari ikan ke laut. Maka untuk memenuhi kehidupan sehari-hari anak dan istrinya. Ia beralih profesi menjadi buruh bangunan.

"Waktu bulan yang lalu, angin barat itu sampai 3 bulan iya saya kerja bangunan proyek di Nusa Dua atau di mana-mana. Pernah saya 15 hari tidak melaut," jelasnya.

Menurut Tirto, jika pada bulan April ini cuaca sudah stabil. Tetapi, hasil tangkapan ikan tidak melimpah hanya sedikit, dan hal itu menurutnya tak jarang membuat rugi para nelayan karena hanya mencukupi untuk membeli bahan bakar untuk perahu.

"Kalau sekarang ikan cumi-cumi saja yang didapat. Tetapi tidak bisa memenuhi bahan bakar. Kita berangkat jam 4 sore, pulangnya besok pagi jam 5. Kadang-kadang hanya cukup membeli bahan bakar," ungkapnya.

Menurut Tirto, untuk biaya operasi saat ini jauh lebih tinggi, dan hasilnya tangkapan ikan belum tentu. Satu kali berlayar. Tirto, harus mengeluarkan uang sebesar Rp 500 ribu, mulai dari biaya bahan bakar dan untuk membeli bekal makan saat di bawah untuk melaut semalaman.

"Minimal itu mengeluarkan Rp 500 ribu untuk biaya makan dan bahan bakar pergi melaut dalam sekali berangkat. Dan dapatnya (ikan) belum tentu. Kalau dulu, walaupun biaya Rp 500 ribu, ikan banyak seolah-olah tinggal ngambil saja. Kalau sekarang, banyak kapal besar menangkap pakai jaring besar, dan kita nelayan kecil kena dampaknya," ujarnya.

Menurut Tirto, menjadi nelayan yang hanya mengandalkan hasil tangkapan untuk biaya kehidupan sehari-hari kadang tidak cukup. Karena, harus membiayai istri dan pendidikan sekolah anaknya.

"Kalau dalam kehidupan sehari-hari, dibilang cukup iya cukup, dibilang tidak cukup iya tidak cukup. Intinya, kalau punya anak sekolah, iya pasti mengeluarkan banyak uang. Tetapi, bagaimana lagi kalau keadaannya memang begitu. Intinya sabar, ada lebihnya sedikit sudah bersyukur," ujarnya.

Selain itu, Tirto juga bercerita sudah 5 hari tidak pulang ke tempat indekosnya, di Jalan Ngurah Rai Kedonganan Bali. Karena, masih belum punya uang dan akhirnya dirinya tidur di pondok gubuk tempat para nelayan bersantai.

"Terus terang saja, saya tidak berani pulang karena tidak enak belum punya uang untuk bayar kos. Nanti, kalau punya uang baru pulang. Kalau, untuk makan iya utang di warung-warung sini, itu sudah hal umum," ujarnya sambil tertawa.

Selain itu, ketika ditanya harapan dalam Hari Nelayan Nasional Indonesia. Tirto berharap dirinya dan kawan-kawan nelayan lainnya. Mempunyai perahu sendiri, Karena, rata-rata para nelayan di Pantai Kelan, mereka masih memakai perahu juragannya.

"Saya masih bawa punya orang (juragan), belum punya sendiri. Nanti, kalau saya punya modal inginnya mau punya perahu sendiri. Kalau yang di sini, bukan rata-rata perahu punya nelayan semua. Tapi yang punya pengepul," tutupnya.

(mdk/eko)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP