Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Gertakan Australia tak mampu selamatkan Bali Nine dari regu tembak

Gertakan Australia tak mampu selamatkan Bali Nine dari regu tembak Keluarga jenguk duo Bali Nine di Nusakambangan. ©AFP PHOTO/Romeo Gacad

Merdeka.com - Terpidana mati Myuran Sukumaran dan Andrew Chan atau yang dikenal sebagai Duo Bali Nine telah ditembak mati semalam. Kasus Duo Bali Nine ini dari awal mengundang reaksi keras dari Australia.

Tak heran, jika pemindahan mereka sampai perlu simulasi pengamanan dan bahkan TNI AU harus mengerahkan pesawat Sukhoi. Bukan hanya soal pemindahan yang tidak biasa dan terkesan berlebihan dari terpidana lainnya, reaksi keras Australia untuk menggugurkan hukuman mati pun tak kalah garang.

Rakyat Australia tetap berkukuh menolak hukuman mati itu dengan berbagai protes. Sebagai contoh, meneror Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kota Sydney, Australia, dengan balon yang berisi cairan mirip darah.

Sebelum teror balon ini, KJRI Sydney pernah dipasangi spanduk protes pada Februari lalu. Intinya juga memprotes hukuman mati kepada dua pentolan Bali Nine.

Bukan hanya warga sipil yang meneror, bahkan Perdana Menteri Tony Abbott turun langsung mengecam eksekusi yang akan dilakukan pemerintah Indonesia. Abbott marah pada pemerintah Indonesia.

"Saya harus membuat posisi yang jelas. Kami terus terang merasa muak dengan prospek eksekusi mereka berdua. Kami membenci kejahatan narkoba, tetapi kami juga benci hukuman mati yang kami pikir tak pantas dilakukan untuk negara seperti Indonesia," ujarnya seperti dilansir Australian Broadcasting Corp.

Pernyataan keras Abbott ini dilanjutkan dengan boikot misi dagang ekspor sapi senilai USD 3 miliar. Satu suara dengan Abbott, Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop mempertimbangkan untuk melarang warganya berwisata ke Indonesia.

"Saya pikir orang-orang Australia akan menunjukkan ketidaksetujuan mereka akan hal ini, dan itu akan menjadi salah satu pertimbangan bagi mereka ke mana mereka akan liburan," ujarnya dalam wawancara dengan radio 3AW, seperti dilansir dari surat kabar The Sydney Morning Herald, Jumat (13/2).

Serangan untuk menggoyahkan Indonesia makin kencang saat Abbot mengungkit bantuan Australia yang sangat besar untuk rekonstruksi Aceh selepas diterjang bencana tsunami pada 2004 lalu. Kemurahan hati warga Negeri Kanguru, menurut Abbott, seharusnya dibayar Indonesia dengan memberi grasi pada Andrew dan Myu.

"Tolong jangan dilupakan saat Indonesia dihantam tsunami, Australia langsung mengirimkan bantuan kemanusiaan miliaran dollar," kata Abbott seperti dilansir Sydney Morning Herald, Rabu (18/2).

Belakangan enam mantan Perdana Menteri Australia menulis permohonan kepada pemerintah Indonesia, agar sudi memberi grasi. Keenam mantan pemimpin itu adalah Kevin Rudd, Julia Gillard, John Howard, Paul Keating, Bob Hawke, dan Malcolm Frasser.

Namun semua gertakan dan permohonan itu sia-sia. Andrew dn Myu tetap dieksekusi mati semalam. Hanya Mary Jane, seorang warga Filipina yang batal dihukum mati saat menit-menit terakhir.

Kini Australia mengancam untuk menarik duta besar mereka dari Indonesia. Hubungan dua negara pun agaknya bakal menghangat.

(mdk/ian)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP