Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Gerindra pertanyakan Densus 88 butuh waktu lama tangkap teroris

Gerindra pertanyakan Densus 88 butuh waktu lama tangkap teroris Densus. ©2012 Merdeka.com/dok

Merdeka.com - Operasi penangkapan teroris yang dilakukan Densus 88 di sejumlah kota seminggu terakhir mendapat banyak kecaman. Pasalnya, Densus 88 membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membekuk para terduga teroris.

Operasi pemberantasan teroris di Bandung misalnya, penangkapan berlangsung hingga 8 jam. Tiga teroris tewas dalam operasi tersebut.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai tindakan Densus yang memakan waktu lama dalam proses penggrebekan teroris dibeberapa itu kemarin patut dievaluasi. Dia mempertanyakan mengapa durasi penangkapan begitu lama.

"Kita patut apresiasi kerja Densus 88. Namun di sisi lain, operasi berdurasi panjang, patut dievaluasi dan diaudit. Kenapa begitu lama? Dan sudahkan sesuai prosedur? Apakah memang bisa diliput live oleh media?" jelas Fadli dalam rilis yang diterima merdeka.com, Jumat (10/5).

Menurut dia, operasi penangkapan dengan jumlah aparat yang cukup banyak harusnya bisa lebih singkat. Apalagi jumlah terduga teroris jauh lebih sedikit dan minim perlawanan.

"Peluru royal sekali berhamburan tapi terlihat satu arah. Apakah memang ada baku tembak? Tak perlu rakyat disuguhkan 'Teroristainment'. Berbahaya," tegas Fadli.

Dia menjelaskan, operasi terbuka dan panjang seperti ini bisa memicu radikalisme baru atau dendam lebih hebat dari kerabat dekat. Terlebih jika diyakini bahwa belum tentu mereka yang ditembak benar-benar teroris.

"Prosedur operasi penangkapan teroris juga harus memperhatikan aspek penegakan hukum dan HAM. Seseorang yang baru menjadi terduga, harusnya diberi hak untuk keadilan. Kadang perlakuan di lapangan terhadap seseorang yang baru saja terduga teroris kurang memperhatikan kaidah HAM, padahal ditonton oleh publik," imbuhnya.

Fadli berpendapat, pemberantasan terorisme harus diiringi dengan pencegahan sistemik. Kemiskinan dan ketidakadilan, tambah dia, kunci utama kenapa benih radikal teroris masih mudah bermunculan.

"Upaya balas dendam terhadap tindakan aparat yang represif, bisa juga menjadi alasan munculnya kembali aktivitas radikal teroris," tandasnya.

(mdk/dan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP