Geng motor inggris pengikut Mahesa Kurung masih pelajar SMP
Merdeka.com - Polisi masih menyelidiki praktik ilmu kebal yang dilakukan Bayu Aji Prakoso (21) kepada puluhan anggota kelompok pemotor bernama inggris di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dari penyelidikan sementara, aksi anarki geng motor itu tak terkait ajaran ilmu kebatinan yang diajarkan Bayu.
"Kalau soal Mahesa Kurung belum ditemukan terlibat," kata Kapolsek Jagakarsa Kompol Sri Bhayangkari saat dihubungi merdeka.com, Senin (5/9).
Sri mengatakan, kegiatan kelompok geng motor inggris itu di luar aktivitas kebatinan yang dilakukan Bayu. Para pengikut Bayu kebanyakan mengaku mengikuti perguruan Mahesa Kurung lebih kepada memperkuat diri.
"Kalau ada yang anarki itu perorangan. Bukan Mahesa Kurung," kata Sri.
Menurut Sri, pengakuan Bayu para muridnya merupakan pelajar. Mereka belajar ilmu kebatinan setiap satu kali dalam seminggu di rumah tempat tinggal orangtuanya.
"Masih pelajar SMP. Kumpulnya seminggu sekali," kata Sri.
Menurut Sri, pengakuan Bayu memiliki murid mencapai 300 orang. Namun polisi masih menyelidiki keterlibatan perguruan Mahesa Kurung dengan kelompok geng motor inggris.
"Setiap datang mereka absen pakai buku kayak buku arisan gitu. Dari buku hadir itu ditemukan 90 orang. Nah setiap rutin kumpul 20 sampai 30 orang," tandasnya.
Diketahui, praktik ilmu kebal di bengkel ketok magic depan Stasiun Tanjung Barat Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dibongkar petugas polisi. Pimpinan kelompok Mahesa Kurung, Bayu Aji Prakoso dan dua anak buahnya diciduk.
"Pengikutnya terdiri dari puluhan remaja atau ABG yang datang dari beberapa wilayah Lenteng Agung dan sekitarnya," ujar Humas Polsek Jagakarsa Aiptu Khairul, Minggu (4/9).
Sejumlah barang bukti yang dipakai untuk belajar ilmu kebal diamankan, seperti satu bilah keris kecil, dua tasbih, sembilan isim atau wafaq atau ajimat, 14 pasang buluh perindu, satu kemenyan, lima butir batu akik dan tujuh botol minyak wangi.
Warga sekitar membenarkan bahwa Bayu sempat dibawa oleh polisi, walaupun tidak ada yang mengaku melihat proses penangkapanya. Namun, ia sudah kembali ke rumah pada Sabtu siang.
"Bayu itu sebagai saksi doang, bukan tersangka. Tahu dari suami saya, ngomong sama Bayu. Jumat jam 11 malam pergi, tapi Sabtu siang udah balik lagi," cerita seorang ibu penjaga warung yang tidak mau disebutkan namanya kepada merdeka.com, Minggu (4/9).
Warungnya terletak persis di depan bengkel ketok magic tempat Bayu tinggal. Berdasarkan pengakuannya, Bayu sering membeli makanan di sana.
Menurutnya dan beberapa warga lain, di sana Bayu menempati rumah nenek dan kakeknya. Ia tinggal sendiri, menjaga kontrakan milik bapaknya yang juga berada di lokasi yang sama. Bengkel ketok magic pun hanya berstatus kontrak dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.
"Salah besar kalau bawa-bawa ketok magic. Yang punya bapak-bapak tua. Ngontrak di sini, berangkat pagi pulang sore. Nggak tahu apa-apa. Ini kan hanya gosip, makin digosok makin sip" lanjut si ibu.
Nino, seorang pemilik warung yang berjarak dua rumah dari rumah Bayu/bengkel ketok magic juga memberikan keterangan serupa. Ia yakin bahwa Bayu adalah anak baik-baik yang tidak mungkin melakukan apa yang dituduhkan kepadanya.
"Nggak ada yang begitu-begitu. Ibu kan deket juga sama Bayu. Nggak masuk akal, belajar gitu nggak mungkin di tempat sembarangan," ujarnya.
Namun, Nino dan beberapa warga lain membenarkan bahwa rumah Bayu memang seringkali digunakan sebagai tempat berkumpul anak baru gede (ABG). Mereka berkumpul di sana dalam rangka mengikuti pengajian. Siapa yang mengadakan pengajian dan apakah anak-anak tersebut berhubungan dengan Bayu, mereka tidak tahu.
"Pengajian mah biasa aja ngaji. Anak-anak muda pakai baju koko, kopiyah. Dateng pakai motor," ceritanya.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya