Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Gayeng Santri, program andalan Polres Purworejo tangkal paham radikal

Gayeng Santri, program andalan Polres Purworejo tangkal paham radikal Kapolres Purworejo bertemu Pimpinan Ponpes Al Iman. ©2017 Merdeka.com/Hari Ariyanti

Merdeka.com - Merebaknya paham-paham radikal yang kemudian disusul dengan teror bom di beberapa daerah menjadi ancaman serius di negeri ini. Bahkan pada Selasa (24/10) pagi, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror kembali menangkap dua pria terduga teroris di sebuah rumah di Jalan Kopkar Raya, Perumahan Pandau Permai, perbatasan Kabupaten Kampar dengan Kota Pekanbaru, Riau.

Dalam menangkal paham-paham radikal yang kemudian dapat melahirkan para penyebar teror, kepolisian tak bisa bekerja sendiri. Peran masyarakat khususnya tokoh agama sangat penting dalam menangkal munculnya bibit-bibit gerakan radikal ini.

Sebagaimana yang dilakukan jajaran Polres Purworejo, Jawa Tengah. Melalui program Gayeng Santri, jajaran Polres rutin berkunjung ke berbagai pondok pesantren (Ponpes).

"Kita programkan tiap bulan Gayeng Santri, bertemu dan berdiskusi dengan santri. Berdiskusi terkait apa yang sedang menjadi topik pembicaraan terutama terkait radikalisme," kata Kapolres Purworejo, AKBP Teguh Tri Prasetya usai bertemu dengan Pimpinan Ponpes Al-Iman Desa Bulus Kecamatan Gebang Purworejo, KH Hasan Agil Al Ba'abud, Selasa (24/10).

Sejauh ini memang belum ada indikasi munculnya kelompok dengan paham-paham radikal di wilayahnya, namun upaya pencegahan harus dilakukan. "Purworejo yang sudah aman dan kondusif jangan sampai teracuni oleh paham-paham seperti itu. Makanya kita gandeng beliau-beliau yang ditokohkan di sini bersama-sama mencegah radikalisme itu," jelasnya.

Polres juga pernah mendatangkan mantan teroris untuk berbicara di depan para santri untuk mencegah jangan sampai ada yang mengikuti aliran radikal seperti itu. Program Gayeng Santri telah dilaksanakan sejak lama dan merupakan buah usulan dari para tokoh agama di Purworejo.

Sementara itu Pimpinan Ponpes Al-Iman, KH Hasan Agil Al Ba'abud menyampaikan dalam memberantas radikalisme dan terorisme, polisi juga perlu melakukan pendekatan kultural dengan menggandeng tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Gerakan radikal kata KH Hasan bisa masuk dari segala penjuru dan komponen, salah satunya dengan menggunakan label agama khususnya Islam dan menggoreng isu-isu SARA. Padahal dalam Islam sendiri tak ada ajaran tentang kekerasan dan mengajarkan pengikutnya berbuat radikal.

"Indonesia ini sudah sangat toleran dari dulu. Aliran-aliran baru ini mereka. Biasa lihat unta, sekarang lihat kambing, kaget," jelasnya. "Bicara toleransi Indonesia sudah paling bagus dan ini (radikalisme dan terorisme) harus kita tanggulangi bersama," sambungnya.

Kepada para santrinya, KH Hasan selalu menanamkan rasa cinta kasih kepada negara dan bangsa. Cinta kepada bangsa dan negara (hubbul wathan) merupakan bagian dari iman. Para santri juga rutin diberikan pelajaran terkait sejarah berdirinya Indonesia.

"Tidak gampang perjuangan pendahulu kita. Apa kita enggak malu dengan para pendiri bangsa ini dan bisa dengan mudah mau dirusak?" pungkasnya.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP