Gang Dolly riwayatmu dulu, kini dan nanti
Merdeka.com - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berkeras hati untuk menutup lokalisasi Gang Dolly dan Jarak. Risma yang mendapat dukungan dari sejumlah elemen masyarakat pun berkali-kali menjamin bahwa lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu akan habis pada 19 Juni mendatang.
19 Juni atau tepat 10 hari sebelum masuk bulan puasa, Tri Risma menyatakan bahwa kedua lokalisasi itu sudah akan rata dengan tanah. Risma berharap di bulan suci, sudah tidak ada lagi bisnis lendir di Kota Pahlawan.
Namun mampukah Risma mewujudkan rencananya itu. Mengingat selama ini para pemimpin Surabaya juga pernah memiliki cita-cita mulia tersebut namun selalu kandas. Gang Dolly tetap menjadi primadona bagi para pria hidung belang untuk memuaskan hasrat birahinya.
Dukungan kepada Risma memang tidak sedikit, tetapi penolak rencana ini juga terus bertambah. Para mucikari, PSK, dan beberapa LSM menyatakan menolak penutupan lokasi yang sudah kesohor sejak zaman Belanda itu.
Bicara Gang Dolly tentu tidak bisa lepas dari kisah tante Dolly, perempuan keturunan Noni Belanda yang katanya sebagai perempuan pertama yang membuat kawasan itu. Bahkan keturunan tante Dolly juga disebut-sebut masih ada hingga kini namun tidak meneruskan bisnis lendir lagi.
Sebagai pencetus komplek lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, ini maka perempuan dengan sebutan tante Dolly itu kemudian dikenal sebagai tokoh melegenda tentang asal muasal terbentuknya gang lokalisasi prostitusi tersebut.
Dalam beberapa kisah tutur masyarakat Surabaya, awal pendiriannya, tante Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan memuaskan syahwat para tentara Belanda. Seiring berjalannya waktu, ternyata pelayanan para gadis asuhan tante Dolly tersebut mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali.
Dalam perkembangannya, gang Dolly semakin dikenal masyarakat luas. Tidak hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK.
Dolly, sebagai tempat prostitusi memang melegenda di Surabaya. Bisnis esek-esek di kawasan ini disebut-sebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Di sana ada sekitar 1.187 PSK dengan jumlah mucikari 311 orang. Angka itu melonjak dibanding pada 2012 sebesar 1.022 PSK dan 292 mucikari. Dalam semalam, perputaran uang di kawasan itu sekitar Rp 2 miliar.
Lalu mampukah Risma menutup Gang Dolly? Bagaimana suara para PSK dan pria hidung belang yang selama ini 'berpacu' di sana? Apa alasan penutupan dan apa solusi yang akan diberikan Risma? Hari ini merdeka.com akan mengulas seputar rencana penutupan dan keluh kesah mereka tentang rencana 'singa betina' itu menutup Gang Dolly dan Jarak. Selamat membaca.
(mdk/hhw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya