Gandalia di tengah pergulatan zaman
Merdeka.com - Empat lelaki berusia senja masih terlihat duduk santai di bawah saung yang di tepi Bendung Gerak Sungai Serayu, Desa Tambaknegara Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Meski angin dingin berembus kencang, penampilan keempat lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan ikat kepala masih dinanti masyarakat sekitar Banyumas yang setia menunggu.
Sebuah panggung terbuka, berisi puluhan alat musik serupa dengan angklung berjajar rapi. "Alat musik ini bernama gandalia atau bongkel," jelas Ketua kelompok seni Gandalia Sabawana, Hadi Warsito, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, alat musik ini termasuk bagian dari kesenian rakyat di desanya yang nyaris saja masuk "museum", lantaran kesulitan mengenalkan cara bermain alat musik tersebut.
"Terus terang, saya awalnya pesimis kesenian gandalia akan berkembang. Karena untuk memainkannya dibutuhkan keahlian. Soalnya ini lebih sulit daripada memainkan calung, kentongan dan juga karawitan. Bahkan, ada yang senior dari saya tidak bisa memainkan alat ini," ungkap Hadi.
Dalam satu alat gandalia setidaknya terdapat empat bilah bambu berukuran 5-7 centimeter. Masing-masing bilah bambu memiliki nada yang bisa dimainkan, yakni ro-lu-mo-nem. Keempat nada tersebut merupakan tangga nada yang kerap menjadi patokan dalam mengiring lagu bernuansa banyumasan.
"Kenapa empat nada? Karena jari manusia ada 10 dan cara memainkannya dengan 'menutup dan membuka'. Dan kalau jumlah nadanya lebih dari empat, nantinya pemain akan kesulitan memainkannya," jelas pria yang tinggal di Desa Tambaknegara.
Alat musik Gandalia, menurut Hadi, kali pertama diperkenalkan Bangsa Setra sekitar Tahun 1925. Gandalia pada awalnya dimainkan di saung atau gubuk para petani yang sedang menunggu menguningnya padi di sawah. Kala itu, warga harus menunggu lahan pertanian agar tidak diserang kawanan babi hutan yang kerap merusak hasil pertanian warga.
"Selain menunggu padi menguning, gandalia juga dimainkan untuk mengusir hewan perusak seperti babi hutan dan juga untuk melepas penat para petani," lanjut Hadi bersemangat.
Saat ini, hanya tersisa empat orang yang masih memiliki kemampuan memainkan gandalia. Keempatnya merupakan keturunan Bangsa Setra yang sedari kecil mengikuti kegiatan Bangsa Setra.
"Kaki Bangsa Setra niku kaki kula, kawit alit kula ya saget main. Soale waune kulo ngetutaken kakine nang sawah (Kakek Bangsa Setra itu adalah kakek saya, sejak kecil saya sudah bisa main (gandalia). Soalnya, sejak kecil sering ikut kakek ke sawah)," tutur Kusmarja yang kini sudah berusia 65 tahun.
Kusmarja adalah orang paling muda dibanding tiga saudara lainnya, Turmudi (75), Sanwiyata (80) dan Kusmeja (80). Mereka fasih membawakan lagu Gandalia yang dibawakan dalam irama khas banyumasan dalam simponi bambu. Berkolaborasi dengan musik tradisional lainnya, buncis, calung dan gong bambu, tidak membuat Kusmarja kesulitan. Kolaborasi inilah yang kemudian diapresiasi warga dalam gelaran di tepi bendungan.
"Gelaran kali ini sebenarnya untuk memecahkan mitos bahwa memainkan alat musik ini sangat sulit dan hanya bisa dimainkan oleh keturunan Bangsa Setra saja," ujar Pimpinan seniman Banyumas, Darno Kartawi yang juga menjadi dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Ia berharap, musik garapan kelompok seni Sabawana dengan kolaborasi beberapa alat musik tradisional khas masyarakat agraris lainnya bisa menambah khasanah berkesenian di Banyumas sekaligus diterima masyarakat. "Kami punya mimpi untuk membuat sebuah penampilan orkestra musik bambu yang benar-benar asli Banyumas," ungkapnya. (mdk/tyo)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya