Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Full day school dinilai bisa rusak nilai kepekaan sosial anak-anak

Full day school dinilai bisa rusak nilai kepekaan sosial anak-anak upacara hari kesaktian pancasila. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menggagas pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta menggunakan sistem full day school. Dengan sistem tersebut diharapkan anak-anak tidak sendiri ketika orangtua mereka masih bekerja.

Namun gagasan tersebut menuai protes dari berbagai kalangan. Salah satunya dari Seniman asal Solo, Sardono W Kusumo. Dia menilai, jika anak harus mengikuti full day, nantinya tidak akan mempunyai jiwa kepekaan sosial.

"Anak itu kalau dipisahkan dari kehidupan sosial kemudian diwadahi dalam sebuah ruang, di mana aspek pendidikan formal yang menajam, nanti partisipasi publik untuk mendidik anak itu jadi tidak punya kepekaan. Orangtua jadi nggak peduli pada anak, kan sudah diurusi sekolahan. Kalau begini kacau," ujar Sardono di Solo, Selasa (9/8).

Mantan Rektor IKJ (Institut Kesenian Jakarta) ini mengatakan, masyarakat atau para orangtua harus diberikan kesempatan untuk terlibat dan tanggung jawab dalam pendidikan anak. Sistem full day, kata dia memang mempermudah bagi orangtua siswa.

"Ini memang mempermudah, tapi jalan mudah itu merusak seluruh sistem pendidikan," tandasnya.

Sardono menambahkan saat ini ada suasana temporer yang membuat manusia ketakutan. Dia berharap ketakutan tersebut tidak mengalahkan atau mengorbankan kepekaan untuk membaca rajutan nilai-nilai manusia terhadap masalah sosial.

"Ini memang mempermudah, tapi jalan mudah itu merusak seluruh sistem pendidikan," tandasnya.

Seperti diketahui, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menggagas pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta menggunakan sistem full day school. Adapun tujuannya, kata dia, agar anak tidak sendiri ketika orangtua mereka masih bekerja.

"Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja," kata Mendikbud Muhadjir.

Menurut Muhadjir, kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan mengaji sampai dijemput orang tuanya usai jam kerja. Kemudian anak-anak bisa pulang bersama-sama orangtua mereka, sehingga ketika berada di rumah, mereka tetap dalam pengawasan, khususnya orangtua.

Untuk mengaji, katanya, pihak sekolah bisa memanggil guru ngaji atau ustaz yang sudah diketahui latar belakang dan rekam jejaknya. Tetapi kalau mereka mengaji di luar, dikhawatirkan ada yang mengajarkan hal-hal yang menyimpang dari Islam.

(mdk/hhw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP