Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Foto kemesraan palsu Ahok dan lawan politiknya

Foto kemesraan palsu Ahok dan lawan politiknya ahok di merdeka.com. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman

Merdeka.com - Banyak orang menilai politik itu jahat. Tak sekadar jahat, politik juga dinilai penuh intrik. Tak ada satu pun yang bisa membenarkan pernyataan di atas. Tapi terkadang, yang terlihat di mata mendekati demikian.

Seperti dalam kasus perseteruan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan anggota DPRD. Bukan cerita baru soal ketegangan kedua belah pihak. Mereka sudah mulai berselisih sejak Ahok memenangkan Pilgub DKI 2012. Saat itu, Ahok menjadi wakil gubernur dari Joko Widodo yang dicalonkan jadi orang nomor 1 di DKI.

Berbagai pandangan miring dialamatkan pada pria asal Bangka Belitung Timur. Tak tanggung-tanggung, alasan rasis juga kadang disangkutpautkan.

Tapi Ahok coba menanggapi santai. Bahkan di beberapa kali pertemuan seperti Rapat Paripurna, Ahok yang mendampingi Jokowi tak terlihat terganggu dan coba berkegiatan seperti biasa.

Ketegangan Ahok dan DPRD makin meruncing saat dia memutuskan keluar dari Partai Gerindra yang telah mengusungnya di Pilgub DKI. Kala itu, Ahok berseberangan dengan partai besutan Prabowo Subianto itu soal mekanisme pelaksaan Pilkada. Gerindra mendukung dipilih DPRD, sedangkan Ahok tetap mau dipilih rakyat.

Sejak itu, komunikasi Ahok pada DPRD makin buruk. Terlebih pada teman-temannya di Fraksi Gerindra di DPRD. Ahok dianggap tak berterima kasih dan lupa kacang pada kulitnya.

"Partai kami enggak dagang. Dia (Ahok) harusnya bersyukur," ujar M Taufik, yang kala itu masih menjabat sebagai ketua DPD Gerindra.

Ketegangan pun makin tak bisa mereda. Ahok terus saja jadi bulan-bulanan DPRD. Apapun yang dilakukan Ahok selalu dianggap tak sejalan dengan DPRD. DPRD pun kesal tak pernah diajak komunikasi oleh Ahok.

Dalam kondisi itu, satu per satu lawan Ahok muncul ke publik. Siapa saja itu?

ahok dan lulung di lebaran betawi

Salah satu anggota DPRD yang sejak dulu vokal pada Ahok adalah politikus PPP, Abraham Lunggan alias Haji Lulung.

Lulung mengkritik gaya kerja Ahok yang bisanya cuma marah-marah pada anak buah dan menuding DPRD yang tidak-tidak.

"Penyelenggaraan pemerintah itu sesuai undang-undang, tidak ada celetak-celetuk slengean," kata Haji Lulung, pada 2013 lalu, saat Ahok masih jadi wakil gubernur.

Tak cuma itu, Lulung pun pernah menyebut Ahok sakit jiwa. Dia minta Ahok memeriksa kesehatan jiwanya.

"Wakil Gubernur harus diperiksa kesehatan jiwanya. Karena selama ini ngomongnya selalu sembarangan," ujar Lulung kala itu.

Bila sebelumnya diam, kali ini Ahok menjawab. "Makanya justru pertanyaan saya, yang sakit jiwa itu siapa? Dia kan Wakil Ketua DPRD DKI, masa dia. Enggak ngerti sih tentang isi aturan Perda Tibum. Padahal perda itu dia yang bikin sama kami loh," kata Ahok.

Saling serang itu terus bergulir. Sampai pada suatu hari, mereka sama-sama diundang menghadiri Lebarab Betawi di kawasan Monas. Lucunya, dalam acara itu keduanya yang selama ini bersitegang malah terlihat akrab dan cipika-cipiki. Bahkan, mereka sempat saling memuji dan berfoto bersama.

"Bos, izin bos," kata Ahok pada Lulung saat akan berpidato di acara itu.

Lulung pun tersenyum sambil mempersilakan. Dalam pidatonya, Ahok sempat menyebut Lulung teman yang baik.

"Haji Lulung baik saya, teman sparing partner," ujar Ahok.

"Bahasa-bahasa yang jelek sudah lah. Kita dipilih rakyat, saya dipilih rakyat, Pak Ahok dipilih rakyat. Bahasanya harus merakyat, jadi ada pengakuan rakyat," timpal Lulung balik memuji.

Tapi anehnya, setelah acara itu, keduanya kembali saling serang. Sebenarnya, di DPRD bukan cuma Lulung yang jadi musuh bebuyutan Ahok. Lalu siapa lagi?

ahok dan djarot ikut rapat dprd dki jakarta

Bukan cuma dengan Lulung saja kini Ahok bermusuhan. Meski pernah sangat mendukung Ahok dijadikan Gubernur DKI Jakarta, kini Ongen Sangaji memutuskan berperang dengan Ahok setelah dirinya menjadi Ketua Angket RAPBD DKI 2015 yang dinilai banyak anggaran siluman.

Seperti diketahui, DPRD sempat ribut soal posisi Ahok yang bakal naik sebagai gubernur. PDIP dan Gerindra sebagai partai pengusung saling rebutan mengajukan calon. Tapi mengacu pada UU, Ahok yakin dirinya lah yang pantas menggantikan Jokowi yang telah memenangkan Pilpres 2014.

Pelantikan Ahok pun sempat diulur-ulur. Hingga akhirnya, dia mendapat persetujuan dan pelantikan digelar. Salah satu partai yang mendukung pelantikannya adalah Hanura di mana Ongen bernaung.

Usai dilantik, keduanya pun sempat berfoto bersama penuh ceria. Tapi keceriaan itu kini berubah menjadi perseteruan.

mediasi ahok dan dprd dki

Tak cuma Lulung dan Ongen, kini Prasetyo Edi Marsudi, politikus PDIP yang menolong Ahok saat ditolak DPRD jadi gubernur, juga bersitegang dengan mantan anggota Komisi II DPR itu. Penyebabnya, saat ramai-ramai dan siluman APBD DKI, Ahok sempat menyebut Prasetyo sebagai oknum yang meloloskan dana siluman bernilai triliunan ke APBD.

"Saya pribadi 'apreciate' tindakan pak Basuki sebagai pemimpin untuk transparansi namun tolonglah mulutnya," kata Prasetyo.

Dikatakan Prasetyo dalam masalah APBD memang harus ada pembahasan karena sesuai dengan undang-undang, jika tidak cocok maka harus dihapus.

"Kan ini buat warga Jakarta, kita kan mengawasi uang yang dikuasai Pemprov itu. Sebetulnya bisalah tinggal komunikasi yang baik, ini selesai tapi jika mau dibuat kayak orang berantem ya terserah," kata politikus PDIP itu.

Padahal saat ormas FPI menentang Ahok jadi gubernur, dia sempat membela dan memastikan Ahok tetap jadi gubernur.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP