Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

FLP: Buku yang beredar di Perpus SD itu bukan porno

FLP: Buku yang beredar di Perpus SD itu bukan porno novel dewasa di perpustakaan SD. merdeka.com/andrian salam wiyono

Merdeka.com - Forum Lingkar Pena membantah stigma porno pada empat buku yang saat ini beredar di perpustakaan sekolah dasar. Buku-buku itu antara lain, Ada Duka di Wibeng (karya Jazimah Al-Muhyi), Tidak Hilang Sebuah Nama (karya Galang Lufityanto), Syahid Samurai (karya Afifah Afra), dan Festival Syahadah (karya Izzatul Jannah). Keempat penulis tersebut adalah anggota Forum Lingkar Pena.

Menurut Forum Lingkar Pena, pelabelan porno tersebut telah mencederai visi dan misi yang sebenarnya ada di dalam konten buku tersebut. Buku-buku tersebut bertujuan memberikan pencerahan kepada masyarakat dan mewartakan antipornografi. "Kami menganggap bahwa pemberitaan yang telah beredar telah mengaburkan tujuan pembuatan buku ini," ujar Ketua Umum FLP Setiawati Intan Savitri kepada merdeka.com, Sabtu (16/6).

FLP menjelaskan, buku ini telah dinilai oleh Panitia Penilaian Buku Nonteks (PPBNP) dan dinyatakan layak sebagai buku non-teks (buku pengayaan, buku referensi, dan/atau buku panduan pendidik) berdasarkan Keputusan kepala pusat perbukuan Depdiknas.

Konten isi  Ada Duka di Wibeng (Jazimah Al-Muhyi) yang sebenarnya adalah cerita tentang pergaulan remaja yang mengajak pada pergaulan yang lebih sehat dan bertanggung-jawab. Oleh karena bentuk tulisan ini berbentuk fiksi maka harus ada alur cerita yang pada akhirnya membawa pada nilai-nilai yang ingin diceritakan yakni tentang pergaulan dengan lawan jenis yang bertanggung-jawab.

Tidak Hilang Sebuah Nama (Galang Lufityanto), adalah novel detektif yang berlatar Australia menceritakan tentang kompetisi antara dua bersaudara Olive dan Odive. Novel ini, meskipun memuat beberapa kata dan kalimat tentang penyimpangan seksual namun tidak memaparkan adegan yang berpotensi mendorong pembaca untuk melakukan apa yang termuat dalam novel tersebut.

Sementara, Syahid Samurai (Afifah Afra) dan Festival Syahadah (Izzatul Jannah) adalah novel yang berisi perjuangan umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sama sekali tidak mengandung konten pornografi.

Setiawati menjelaskan, FLP adalah organisasi pengaderan penulis yang sejak awal pembentukannya pada tahun 1997 memiliki visi mencerahkan masyarakat melalui tulisan. Dalam menulis berbagai karya, para anggota FLP memiliki sikap untuk tidak menulis karya yang membawa pada kemudharatan. Para anggota FLP juga ada di garda depan dalam menolak segala bentuk karya yang bermuatan pornografi.

Sebelumnya diberitakan, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta agar Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar segera menarik dua novel yang dinilai mengandung muatan pornografi.

Novel itu berjudul "Tak Hilang Sebuah Nama" dan "Tambelo Kembalinya Si Burung Camar" yang peredarannya sudah dilakukan sejak Maret 2012. (mdk/tts)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP