Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Fenomena kaum pria sesuka jenis di Indonesia

Fenomena kaum pria sesuka jenis di Indonesia homo. shutterstock

Merdeka.com - Keberadaan pria sesuka jenis (gay) di Indonesia membuat miris. Tanpa ada rasa canggung, para gay ini sudah mulai menunjukkan identitasnya. Bahkan, sebagian dari mereka sudah ada yang berani memamerkan hubungan tersebut ke ranah publik.

Sebagai contoh, berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Depok menyebutkan Tahun 2014 tercatat penyuka sesama jenis sebanyak 4.932, dan tahun 2015 meningkat menjadi 5.791 lelaki suka lelaki (LSL). Dari jumlah tersebut, kaum yang disebut gay itu rata-rata berusia produktif antara 17 sampai 24 tahun.

Alasan mereka untuk lebih memilih suka terhadap sesama jenis karena menghindari kehamilan. Jadi LSL akan bebas melakukan hubungan seks tanpa ada ketakutan untuk bertanggungjawab.

"Mereka menganggap dengan berhubungan sesama jenis tidak beresiko hamil," kata Sekretaris KPA Kota Depok Herry Kuntowo, Selasa (17/11).

Lanjutnya, KPA mengklasifikasikan kaum gay di Depok terbagi menjadi dua, yang pertama kaum yang mencari jasa alias PSK sejenis, kemudian kedua kaum PSK atau menjual jasa seks sejenis. Kaum gay ini diketahui tersebar di sembilan kecamatan dan bekerja di panti pijat.

"LSL itu kadang dia menjadi penjual kadang dia menjadi pembeli," ungkapnya.

Sehubung dengan penjelasan KPA, di beberapa lokasi pun bisa kita jumpai tempat para gay menjalin hubungan. Komunitas gay begitu sebutannya, mereka sering melakukan pertemuan sesama gay di suatu tempat seperti kafe, kelab, SPA, dan tempat lainnya. Pertemuan ini biasanya untuk sekedar bincang-bincang bertukar pikiran.

"Biasanya ngumpul di Club, tempat SPA dan tempat lain yang isinya laki-laki semua. Kami juga sebagai gay menggunakan aplikasi di handphone untuk sekedar chating ke sesama gay. Aplikasi sejenis Whatsapp, hanya saja ini khusus kaum gay," ucap salah seorang gay, YS (25) saat dihubungi merdeka.com, Kamis (19/11).

Melihat ada fenomena tersebut, Psikolog Sosial (Gender dan Seksualitas) Universitas Surabaya Hany Srikandi mengatakan gay ini pun didukung karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk biseksual.

"Selain faktor lingkungan berkumpul, faktor lain adanya fenomena gay bahwa manusia sebenarnya makhluk biseksual, bisa suka sesama dan beda jenis. Cuma seiring berjalannya dalam lingkungan, kita terlihat lebih tertarik ke mana," tutup Hany saat dihubungi merdeka.com, Jumat (20/11).

Hari ini merdeka.com mengulas tentang fenomena gay di masyarakat. Selamat membaca. (mdk/eko)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP