Fenomena Kampus Berikan Gelar Kehormatan Dinilai Ingin Jadi Bagian Kekuasaan
Merdeka.com - Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri bakal menerima gelar profesor kehormatan atau guru besar tidak tetap (GGBT) dari Universitas Pertahanan pada Jumat (11/6). Pengamat Pendidikan dari Universitas Paramadina, Totok Amin Soefianto menilai fenomena memberikan GGBT kepada tokoh untuk berlomba-lomba menjadi bagian dari pemerintah.
"Menurut saya fenomena kampus memberikan gelar kehormatan, kan seolah-olah berlomba-lomba kan. Nah di sini, saya melihat ada fenomena, bahwa kampus ini aktor-aktor kampus dalam hal ini dosen itu berlomba-lomba untuk menjadi bagian dari pemerintah, menjadi bagian dari kekuasan," katanya saat dihubungi merdeka.com, Rabu (9/6).
Dia mencontohkan banyak civitas kampus yang menjadi direktur, menteri, dirjen, hingga komisaris BUMN. Tidak hanya itu, yaitu Pratikno yang saat ini menjadi Mensesneg sebelumnya menjadi dosen di Universitas Gajah Manda. Dia menilai dengan memberikan gelar kehormatan tidak tetap kepada tokoh maka para aktor kampus akan mendapatkan posisi di pemerintahan.
"Coba lihat BUMN kementerian jadi dirjen, nah menurut saya ini menjadi sebab kampus kurang kritis saat ini. Kan sudah kehilangan kampus yang dosen yang kritis yang punya suara berbeda dari pemerintah. Agak kurang kita," bebernya.
Hal tersebut pun kata Totok akan berdampak buruk. Salah satunya kampus tidak memiliki kemandirian. Sebab kata dia terlalu terpukau pada kekuasaan dan bisnis.
"Entah itu yang dapat itu kan kebanyakan pengusaha sukses, pejabat, ini menunjukkan secara tidak langsung kampus itu mendapat anggaran dan kekuasaan. Ini yang menyebabkan kampus akhirnya mencoba memuaskan kalangan bisnis atau kalangan penguasa," bebernya.
Seharusnya kampus kata Totok mencari anggaran sendiri di samping didapatkan dari mahasiswa.Salah satunya kata dia dengan menciptakan inovasi dan riset sehingga mampu memberikan trobosan yang paten.
"Dari situ kan mereka dapat uang, di samping dari uang kuliah bisa jadi andalan, kampus harus punya uang pemasukan nontradisional jangan mengharapkan dari jumlah mahasiswa aja, tetapi dari kolaborasi, riset," ungkapnya.
Totok pun berharap dengan adanya kerja sama dan kolaborasi dengan pemerintah dan pengusaha tidak hanya mendapatkan manfaat dari pemerintah. Tetapi dapat mengembangkan inovasi dan terobosan baru.
"Tetapi ini mudah-mudahan jadi titik awal kolaborasi lebih baik dengan pejabat, jangan cuman 'jualan profesor dan doktor, jualan honoris kausa dan profesor kehormatan'," bebernya.
"Jadi jadi jembatan kerja sama yang lebih baik, mudah-mudahan begitu, tapi kalau keterusan jadi cara mudah, nanti kampusnya cuma ngajar saja enggak pernah ada riset dan ada paten," tambahnya.
(mdk/eko)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya