Fadli sebut IMF di belakang lengsernya Soeharto
Merdeka.com - Tragedi Mei 1998 adalah peristiwa bersejarah yang telah membawa Indonesia pada babak baru perjalanan reformasi bangsa. Ditandai dengan kekuasaan Soeharto yang telah berkuasa lebih dari tiga dasawarsa, yang pada akhirnya jatuh pada 21 Mei.
Terkait hal ini, Fadli Zon merilis ulang bukunya tentang 'Politik Huru-Hara Mei 1998'. Acara bedah buku ini juga turut mengundang Jimly Asshidiqie dan Salim Said sebagai narasumber.
"Buku ini sudah saya pernah rilis sebelumnya ditahun 2004, namun karena banyaknya permintaan yang masuk maka tahun ini saya rilis lagi. Peluncuran buku ini adalah salah satu cara penyampaian untuk meluruskan sejarah," kata Fadli Zon di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Selasa (21/05).
Fadli menuturkan, buku ini membahas dari krisis ekonomi 1997-1998, jerat IMF menuju huru-hara bulan Mei 1998, rivalitas Wiranto dan Prabowo, insiden Trisakti, Distorsi pertemuan Makostrad, sampai ke permasalahan para Jenderal yang dibawa ke Malang pada saat kerusuhan terjadi.
"Saya membahas sejarah dalam buku ini agar mereka-mereka yang sekarang bisa mengerti. Menurut saya dengan sejarah orang-orang bisa tahu. Kalau misal masih ada saksi-saksi lain itu juga lebih bagus. Karena 1998 ini sebenarnya masih pendek ya, baru 15 tahun. Tetapi nanti 50 tahun dari sekarang atau 100 tahun dari sekarang, seseorang pasti akan melihat ini dengan berbeda. Bisa terjadi deviasi juga di dalam sejarah ini. Oleh karena itu memang untuk mereka yang mengetahui dan mau menuliskannya itu akan lebih bagus," kata Fadli.
Fadli juga menilai, salah satu penyebab utama terjadinya huru-hara Mei 1998 adalah International Monetary Fund (IMF). Pada 8 Oktober 1997, pemerintah mengumumkan akan meminta bantuan pada IMF. Atas desakan dari para penasehat ekonominya, lalu pada tanggal 31 Oktober 1997 Indonesia menandatangani nota kesepahaman pertama dengan IMF.
"Dalam kesepakatan itu, tercantum pasal mengenai peniadaan subsidi dan kontrol, yang berdampak naiknya pada harga BBM. Setidaknya, terjadi tiga kali nota kesepahaman antara IMF dan Pemerintah Indonesia, ini justru makin memperparah kondisi perekonomian di Indonesia," kata Fadli.
Dengan terjadinya hal itu, Fadli menjelaskan bahwa Rupiah semakin anjlok. Pasar uang dan pasar modal rontok, ratusan perusahaan bertumbangan, tingkat pengangguran naik 20 persen lebih dari angkatan kerja, atau tepatnya Rp 20 juta orang, dan naiknya harga-harga kebutuhan pokok dengan cepat.
Mulai saat itu, terjadilah demonstrasi dari mahasiswa yang dimulai dari tahun 1998. Dari tuntutan harga-harga yang harus turun hingga permintaan reformasi pemerintahan yang kala itu masih dipegang Soeharto.
"Saya menganjurkan untuk membaca buku ini. Dan saya kira ini juga sudah puluhan kali dibahas di perguruan-perguruan tinggi, dari isi buku ini hampir tidak ada yang dibantah," kata Fadli.
Lain halnya dengan Jimly Asshidiqie, ia malah berharap pada masyarakat untuk jangan membaca buku milik Fadli saja. Jimly menganjurkan masyarakat agar bisa membaca buku dengan versi-versi yang lain, agar bisa keluar sudut pandang yang berbeda-beda nantinya.
"Saya rasa buku ini adalah salah satu versi dari peristiwa Mei 1998. Masih banyak versi-versi lain yang kita terima sebagai karya sejarah dan para aktor, dan nanti biar para ahli menilainya. Dan menurut saya biarkan para aktor-aktor yang dulu terlibat di dalam peristiwa Mei 1998 ini tentu punya sudut pandangnya sendiri-sendiri. Tidak mengapa, toh semuanya diambil dari sudut pandang masing-masing," kata Jimly yang sekarang menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).
Jimly juga memaparkan, bahwa dirinya pribadi juga mempunyai versi cerita yang berbeda terkait peristiwa Mei 1998 tersebut. Hanya saja Jimly mengaku belum sempat menulis versi ceritanya itu.
"Saya pun punya sudut pandang, tapi saya belum sempat mau menulis buku. Itu aja. Tapi saran saya itu tadi, baca juga buku yang lain, yang ditulis oleh penulis lain. Seperti Pak Wiranto, Pak Habibie, pasti punya versi yang lain-lain," ujar Jimly. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya