Evani, akuntan publik lulusan Barkley yang pilih jadi barista
Merdeka.com - Bermula dari benci namun lama-lama menjadi cinta. Itulah satu kalimat yang pantas disandang Evani Jesslyn, gadis kelahiran 16 Agustus 1990 ini yang saat ini menyandang sebagai Barista (penyaji kopi) andal di tingkat nasional bahkan Asia.
Bagaimana tidak, awalnya perempuan yang kerap disapa Evani ini sangat tidak menyukai kopi. Mencium saja sudah pusing, mabuk akibat aroma kopi. Apalagi sampai menikmati, bisa-bisa penyakit maag yang dideritanya akan bertambah parah.
Namun ternyata jalan hidup berkata lain, saat Evani mengenyam pendidikan di University California (UC) Barkley jurusan bisnis di negara Paman Sam, Evani yang sama sekali tidak menyentuh apalagi menikmati mulai mengenal cita rasa kopi yang sesungguhnya. Di negara tempat dirinya menimba ilmu dari tahun 2009 sampai 2012 itulah, kini Evani malah mencintai kopi.

Evani Jesslyn ©2016 merdeka.com/parwito
"Apalagi setelah lulus dari UC Barkley saya kemudian bekerja sebagai auditor di perusahaan akuntan publik Internasional di Lloyds TSB Amerika selama setahun. Saya sering lembur kerja dan sering pula ditemani oleh kopi setiap malam. Akhirnya, saat itulah yang awalnya mabuk jika mencium kopi saat di Indonesia malah menjadi cinta," ungkap Evani kepada merdeka.com saat ditemui di Strada Cafe miliknya di Jalan S Parman, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (27/4) kemarin.
Dengan penuh keyakinan, Evani memutuskan untuk keluar dari perusahaan akuntan publik Internasional di Lloyds TSB Amerika dan hijrah ke San Fransisco dan Singapura selama setahun untuk mendalami ilmu perkopian.
Dari tahun 2013 sampai tahun 2014, Evani berhasil memperoleh sertifikat Q Arabika Grader. Selain itu juga saat itu, Evani penyandang predikat Barista termuda yang memperoleh gelar Barista saat itu.

Evani Jesslyn ©2016 merdeka.com/parwito
Berbekal keterampilan dan menyandang sebagai Barista dari negara Paman Sam dan negara Singa, keinginan Evani untuk pulang ke Tanah Air semakin kuat. Apalagi jiwa enterpreunernya tidak lepas dari kedua orangtuanya, Robert Honggiarto dan Ruby Sukamti.
"Keinginan untuk terus di sana sih ada, tapi pada akhirnya saya balik ke Indonesia, kandangnya di Semarang. Lama kelamaan di sini nggak mau balik ke Amrik," terangnya.
Akhirnya, setelah di Semarang Evani berniat membuka sebuah kafe khusus menyajikan kopi sebagai menu andalanya. Hingga akhirnya diciptakanlah sebuah kafe bernama Strada. Kata Strada adalah sebuah kota di negeri Paman Sam dengan logo nama kafe berwarna biru berarti teknologi. Kemudian asap yang mengepul dan di atasnya terdapat biji kopi.
"Dari biji kopi melalui teknologi, tercipta kopi yang menjadi simbol pemersatu dunia. Melalui kopi inilah sebuah teknologi bisa dikembangkan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Bahkan sebagai pemersatu manusia di seluruh dunia Internasional," papar Evani.
Kini, meski Evani jebolan dari universitas International UC Barkley namun dirinya lebih memilih mendalami dan menekuni profesinya sebagai Barista. Langkah ini diambil karena dirinya sangat berkeinginan memajukan dunia perkopian di Indonesia.

Evani Jesslyn ©2016 merdeka.com/parwito
"Di Amerika, kopi asal Mandailing dan Gayo Sumatera sangat popular dan diminati oleh warga negara dan para penduduk penggila kopi yang bermukim di Amerika. Maka, pertama kali kembali ke Tanah Air dan menginjakkan kaki di Indonesia saya sering ke Sumatera untuk bekerja sama dengan para petani kopi Arabika di sana. Meskipun petani di sini banyak yang ngeyel-ngeyel selama berinteraksi dan berbisnis dengan mereka, saya tetap berjuang, bersabar untuk mempopulerkan kopi di negara lain. Jangan sampai negara kita ngisin-ngisini (memalukan) di negara lain," pungkasnya. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya