Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Endang Karmas, pemuda yang merobek bendera Belanda di Bandung

Endang Karmas, pemuda yang merobek bendera Belanda di Bandung Gedung Denis. ©2015 Merdeka.com/Iman

Merdeka.com - Peristiwa perobekan bendera merah, putih, biru Belanda di Hotel Yamato Surabaya 10 November 1945 menjadi catatan heroik pasca Proklamasi Kemerdekaan RI. Peristiwa serupa terjadi pula di Bandung.

Peristiwa tersebut diceritakan dalam buku “Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan” (Cetakan kedua oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat 2013).

Pada buku setebal 254 halaman tersebut disebutkan, pasca Proklamasi euforia kemerdekaan melanda negeri termasuk di Bandung. Para pemuda berusaha melucuti tentara Jepang, menduduki gedung-gedung yang masih dikuasai Belanda, dan mengibarkan bendera merah putih untuk menggantikan bendera Jepang dan Belanda.

“Aksi pengibaran Merah Putih ternyata tidak hanya di instansi, tetapi juga di seluruh kota. Tidak hanya menurunkan bendera Jepang, tetapi juga menyobek warna biru bendera Belanda,” demikian dalam buku yang kata pengantarnya ditulis oleh saksi sekaligus pelaku sejarah Bandung Lautan Api, Jenderal Besar TNI (Purn) AH Nasution.

Peristiwa perobekan bendera Belanda di antaranya terjadi di Gedung De Eerste Nederlands-Indische Spaarkas en Hypotheekbank (Denis), kini Bank Jabar Banten, yang berdiri di Jalan Braga-Naripan pada awal Oktober 1945.

Pelaku perobekan adalah Moh. Endang Karmas dan Mulyono yang waktu itu masih kecil. Buku tersebut kemudian memuat penuturan dari Endang Karmas. Saat itu ia sedang jalan-jalan di Alun-alun kemudian melintas di Jalan Asia-Afrika dan Jalan Braga.

Ia melihat ada kerumunan massa di depan Gedung Denis. Karena penasaran, ia kemudian mendekat. Di sana ia melihat tentara Jepang yang tampak terbunuh. Ia menduga tentara Jepang tersebut bertugas menjaga gedung yang didiami orang-orang Belanda.

Waktu itu, kata Endang, semangat perlawanan bangsa Indonesia sedang tinggi-tingginya, memicu kebencian terhadap Belanda dan Jepang. Di dalam gedung ia melihat perkelahian. “Saya untuk berkelahi tidak mungkin karena waktu itu saya masih kecil,” katanya.

Tidak ingin terlibat perkelahian, ia pun ikut naik ke atas gedung mengikuti beberapa orang lainnya. Banyak orang yang berteriak-teriak “Bendera!” sambil nunjuk ke atas gedung. Di atas gedung, ia bertemu dengan temannya Mulyono yang juga bermaksud melepas bendera.

Sementara orang lain tidak bisa mencapai puncak gedung. Mereka banyak yang berdiri menyaksikan dari atas dak. Namun begitu sampai di tiang bendera, kata dia, ternyata kabel bendera terbuat dari besi, membuat bendera sulit diturunkan.

Di tengah usaha penurunan bendera itu, terdengar tembakan senjata. Orang-orang berteriak “Awas dari Hotel Homann.” Hotel Homann merupakan gedung lainnya yang didiami orang-orang Belanda.

Untung saja bendera itu terkulai, ia berhasil memegang ujung bendera tepat di bagian warna birunya. Ia memiinta Mulyono memegangi ujung bendera itu. Ia sendiri mengeluarkan bayonet milik Belanda.

“Nah saya buka bayonet Belanda, disobek-sobek saja gitu. Disobek-sobek sehingga menjadi merah putih lagi, tapi masih banyak birunya. Rusak gitu (kain warna birunya tercabik-cabik, pen.),” tutur Endang.

(mdk/has)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP