Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dua kali ditembak bius, orangutan diamankan BKSDA Jateng

Dua kali ditembak bius, orangutan diamankan BKSDA Jateng BKSDA Jateng amankan orangutan.. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah (Jateng) Selasa (23/9) menyita seekor orangutan berjenis 'Pongo pygmaeus' dari tangan ES warga Dusun Ploso, Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Orangutan yang biasa dipanggil Tita ini berumur antara 15-16 tahun dengan berat badan sekitar 100 kilogram berhasil dievakuasi setelah ditembak dengan obat bius sebanyak dua kali.

"Evakuasi berlangsung secara dramatis, pasalnya selain menembakkan obat bius sebanyak dua kali. Sekali tembak dengan cairan pembius dua mili tidak mempan. Kemudian, jarak lima belas menit kita tembak lagi dengan cairan pembius dengan tambahan satu mili. Setelah pingsan baru kita evakuasi," ungkap Yohanes Setiawan usai memimpin evakuasi setelah sampai di Kantor BKSDA Jateng, Jalan Dr Suratmo, Kota Semarang, Jawa Tengah Selasa (23/9) malam tadi.

Yohanes menceritakan usai pingsan, kemudian mengeluarkan Tita dari kandangnya yang dalam kondisi tragis dari serpihan kayu hanya berukuran 1,5 meter X 1,5 meter dengan ketinggian hanya dua meter saja. Bahkan, saat mengevakuasi, untuk memindahkan sang Tita dari kandang ke atas kurungan di dalam truk, kayu yang untuk mengangkut Tita sempat patah.

Kepala BKSDA Jateng Suharman menyatakan orangutan Tita ini menurut pengakuan ES, didapatnya dari suku dayak di Samarinda, Kalimantan Timur sekitar 15-16 tahun yang lalu masih bayi. Dipastikan, suku dayak itu telah membunuh induk dari bayi orangutan tersebut.

"Konflik yang ada di Kalimantan menjadikan induk orangutan ini dibunuh suku dayak. Bisa dipastikan karena sang pemilik bekerja sebagai pengusaha kayu dan mebel di Kalimantan dan kembali ke Jepara pada tahun 2000. orangutan tersebut sehari-harinya sudah bersosialisasi dengan manusia. Bahkan, mengonsumsi makanan layaknya manusia seperti nasi dan kecap. Ironisnya, hingga air putih pun, Tita sang orangutan tidak mau mengonsumsi air putih," tegasnya.

ES sengaja menyerahkan dan beritikad baik memasrahkan orangutan ini karena sudah dewasa dan ingin kawin kemudian melewati proses birahi, ES kewalahan dan menyerahkan sepenuhnya ke BKSDA Jateng.

"Mungkin pemiliknya sudah kewalahan karena orangutan yang sudah dewasa dan ingin kawin mengalami birahi dengan segala sifat sensitifnya mudah untuk terpancing emosi dan mengamuk. Akibatnya, orangutan ini takut terlantar dan tidak terawat sehingga diserahkan ke kami dan akan kami kirim ke Balai Konservasi yang layak," ungkapnya.

Menurut rencana, orangutan Tita ini usai dievakuasi akan dilakukan cek kesehatan dan dititipkan ke Lembaga Konservasi di Sido Muncul, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

"Sesuai PP Tahun Nomor 27 tentang satwa liar termasuk dilindungi dan UU No 5 tahun 1990 ini termasuk hewan dilindungi. Makin dilindungi, makin terkesan prestise, barang kali terkesan lucu saat kecil. Namun, saat birahi susahkan pemilik sehingga dikembalikan dan diserahkan ke BKSDA Jateng. Kemudian akan dicek kesehatan di LK Sido Muncul ada orangutan dua ekor. Supaya tidak bawa penyakit dari luar. Antisipasi TBC, diare dan lain-lain," pungkas Suharman (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP