Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Drama air mata Yvonne soal Engeline di depan hakim

Drama air mata Yvonne soal Engeline di depan hakim Sidang kasus Engeline. ©2015 merdeka.com/gede nadi jaya

Merdeka.com - Kasus pembunuhan Engeline masih terus bergulir. Hingga kini hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar belum mengungkap dengan jelas pembunuh bocah 6 tahun itu. Terakhir, PN Denpasar masih mengorek-ngorek keterangan para saksi dari kedua terdakwa yaitu Margriet Chritina Megawe (60) dan Agustinus Hamda May.

Semua orang yang dekat dengan kedua terdakwa menjadi saksi dalam kasus nahas tersebut. Hampir semua pengakuan saksi menyampaikan bahwa selama tinggal bersama Margriet, Engeline dimanfaatkan sebagai tukang mengurus binatang peliharaan Margriet.

Bahkan, yang lebih parah bocah imut itu kerap kali disiksa yang akhirnya ditemukan tewas di pekarangan rumah. Akan tetapi, semua tuduhan terhadap Margriet dibantah oleh kedua putri nya Yvonne dan Christine. Ketika menjadi saksi, Yvonne malah memberikan pengakuan yang janggal di depan hakim soal kematian Engeline.

Apa saja pengakuan diungkap Yvonne? Berikut kesaksian berderai air mata Yvonne di depan hakim soal tewasnya Engeline:

Yvonne ngaku baru tahu Engeline meninggal saat di kantor polisi

baru tahu engeline meninggal saat di kantor polisiRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Putri pertama dari terdakwa Margriet Christine Megawe (60), Yvonne Caroline Megawe mengaku baru mengetahui Engeline meninggal saat di kantor polisi. Ketika itu, dia bersama Margriet sedang melapor kalau adik angkatnya itu hilang."Setelah beberapa jam di Polresta, saya baru ditanya-tanya disampaikan kalau adik saya Engeline sudah meninggal. Saat itu saya tidak diberi tahu dimana jasadnya ditemukan," ungkapnya, saat bersaksi dalam sidang ibunya, di PN Denpasar, Senin (28/12).Menurut Yvonne, awalnya dia dihubungi oleh anggota polisi yang mengatakan ingin ketemu. Dia pun langsung bergegas ke kantor polisi berharap ada kabar baik soal hilangnya Engeline. Akan tetapi, harapannya itu sirna setelah polisi memberi tahu bahwa Engeline telah ditemukan tewas. "Saat saya kerja, saya ditelepon polisi dan ingin bertemu membicarakan soal adik saya Engeline. Saat pertemuan itu, saya sama sekali tidak tahu kalau adik saya ditemukan sudah jadi mayat. Saya langsung diajak ke Polresta, bahkan saat itu saya belum tahu adik saya Engeline sudah meninggal," katanya.

Ivonne ngaku dilarang polisi saat akan melihat jenazah Engeline

dilarang polisi saat akan melihat jenazah engelineRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Sehari pasca ditemukan Engeline, Ivonne mengaku bahwa dia bersama ibunya, Margriet, dan adiknya, Christine, berniat ke RSUP Sanglah buat membuktikan kebenaran tersebut. Namun niatnya dihalangi oleh polisi."Kami tidak ada ruang untuk membuktikan. Untuk ke ruang jenazah kami tidak diizinkan," kata Yvonne.Dia juga mengatakan, bahwa tidak diizinkan untuk bicara dengan siapapun terkait kematian Engeline, apalagi kepada media.Yvonne menilai saat awal dia melaporkan kehilangan Engeline, Polsek Denpasar Timur tidak sungguh-sungguh menangani dalam melakukan pencarian. Oleh sebab itu, dia langsung berinisiatif menggalang kepedulian teman-temannya untuk membantu mencari keberadaan Engeline."Saat Engeline dikabarkan hilang, saya dan ibu saya berusaha mencari tahu kemana harusnya melapor. Saat itu sudah menjelang malam, ini anak kecil. Saya selalu ada berpikiran kalau Engeline benar diculik, dan sampai 24 jam tidak ditemukan, sudah pasti keluar daerah bahkan dibawa ke negara lain," ungkapnya sambil menangis.

Yvonne mengaku diminta tebusan saat Engeline dikabarkan hilang

diminta tebusan saat engeline dikabarkan hilangRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Dalam kesaksiannya, anak sulung Margriet, Yvonne Caroline Megawe (37), mengaku sempat mendapat pesan pendek meminta tebusan, usai adik angkatnya itu dikabarkan hilang.Menurut Yvonne, setidaknya ada lima nomor berbeda masuk ke ponselnya, berisi pesan singkat adiknya ada pada orang itu, dan meminta uang tebusan."Saya tidak ingat nomor berapa saja, semua ada di catatan polisi. Uang tebusan yang saya ingat hanya sebesar Rp 150 juta. Ada juga yang meminta Rp 30 juta, hanya itu yang saya ingat. Lengkapnya ada datanya di kepolisian," kata Yvonne.Yvonne juga mengaku tidak tahu sampai di mana pengusutan terhadap nomor-nomor itu. Awalnya, dengan adanya pesan pendek itu, dia meyakini adik angkatnya memang diculik. Hal itu menurut dia, membikin banyak orang bersimpati dan membantu menggalang dana."Saya tidak pernah menggalang dana. Tetapi banyak yang bersimpati untuk melakukan penggalangan dana," ujar Yvonne.Yvonne juga menambahkan, sebelum Engeline hilang, saat itu ada rencana merayakan ulang tahunnya ke-8 di tempat rekreasi Waterboom, Kuta, Bali, pada 19 Mei. Dikatakan dia, saat itu ibunya, Margriet, yang ingin merayakan ulang tahun Engeline di tempat itu.Meski demikian, lanjut Yvonne, dia awalnya ingin membikin pesta kecil buat Engeline di Canggu. Namun, Margriet ngotot supaya dirayakan di Waterboom."Saya lupa tanggalnya, pastinya sebelum adik saya dikabarkan hilang. Kami berniat merayakan ulang tahunnya. Saya ingin dirayakan sederhana, tetapi ibu saya ingin dirayakan di Waterboom," ucap Yvonne.Bahkan menurut Yvonne, dia dan adiknya, Christine, berniat meminta Margriet tidak lagi tinggal di rumah di Jalan Sedap Malam tahun depan. dia ingin mengajak ibunya dan Engeline menetap bersamanya di Canggu.

(mdk/ary)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP