DPR Soal Asing Tekan RI Pakai Obat Ivermectin: Apapun yang Penting Rakyat Selamat
Merdeka.com - Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDIP Rahmad Handoyo kesal terkait informasi RI ditekan asing untuk menggunakan ivermectin sebagai obat penyembuhan virus Corona. Menurutnya, informasi tersebut ngawur dan justru menambah energi negatif.
"Saya kira ini ngawur ya, apapun saat ini kita butuhkan gotong royong apapun kita gunakan untuk energi positif untuk pengendalian Covid-19 obat ivermectin itu kan obat generik, itu kan obat murah ya jadi saya enggak habis pikir ada pemikiran seperti itu," kata Rahmad, Rabu (30/6).
Menurut dia, bergulirnya isu tersebut sangat disayangkan. Harusnya, dalam penanganan Covid-19 mesti belajar dari kasus, data maupun penggunaan apapun obat apapun termasuk ivermectin.
Menurutnya, obat yang digunakan negara lain dan terbukti ampuh dalam pengendalian Covid-19 harus dibeli, diambil dan dibuat apapun obatnya.
"Kita 100 persen impor loh ya untuk vaksin aja, masa ada tekanan tekanan, enggak masuk akal itu. Terlepas apapun yang penting saat ini negara bagaimana caranya untuk menyelamatkan rakyatnya baik melalui vaksinasi, keputusan protokol kesehatan maupun obat obatan," tuturnya.
Rahmad menyebut, bahwa BPOM sudah menyampaikan izin edar penggunaan maupun pelaksanaan uji klinik ivermectin. Menurut dia, di beberapa negara penggunaan ivermectin sudah cukup efektif. Begitu pula manjur dipakai di beberapa daerah Indonesia.
"Jadi sangat disayangkan berita berita informasi terhadap tekanan tekanan ini, kalau ternyata obatnya itu sangat manjur, mahal pun kita beli, itu untuk rakyat meskipun harus diakui bangsa kita masih sangat tergantung 90 persen obat-obatan, bahan obat, termasuk alat kesehatan kita masih impor," ujarnya.
"Jadi jangan serta merta (bicara ditekan asing), kalau toh benar apa salah kalau kita untuk menyelamatkan rakyat dari beli itu? yang bener aja menyampaikan seperti itu, saya kritik keras terhadap soal ini jadi kasihan rakyat," tegasnya.
Rahmad meminta sesuatu hal yang belum ada kepastian jangan di umbar ke media. Sehingga rakyat mengkonsumsi informasi mentah dan menjadi energi negatif.
"Mau dari manapun obatnya berapa pun harganya kalau efektif kita beli, kita adakan, negara hadir ingat itu. Jadi yang penting negara apapun sudah betul melalui mekanisme yang sudah dijalankan ini terkait rencana pengadaan ivermectin ini," pungkasnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir membantah, adanya tekanan perusahaan Amerika Serikat (AS) untuk penggunaan Ivermectin sebagai obat terapi penyembuhan Covid-19 di Indonesia. Bio Farma ialah perusahaan induk Indofarma.
Menurutnya, tidak ada sama sekali tekanan dari pihak asing untuk pemakaian Ivermectin sebagai obat penyembuhan virus corona jenis baru tersebut. Bahkan, dirinya mengaku terkejut atas munculnya pemberitaan tersebut.
"Wah baru dengar itu kok ada bujuk rayu. Tidak ada lah mas," singkat dia kepada Merdeka.com, Selasa (29/6)
Sementara itu, epidemiolog Pandu Riono melalui akun twitternya mengungkap isi surat dari FLCC yang ditujukan kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terkait rekomendasi penggunaan Ivermectin.
"Upaya bujukan, tekanan atau bujuk-rayu lain pasti dilakukan oleh organisasi internasional atau domestik untuk gunakan obat cacing ivermectin sbg terapi Covid-19 di NKRI. Dua tokoh yg aktif sebagai promotor di publik, Moeldoko dg Harsen-pharma Erick Thohir dg indofarma," ungkap Pandu Riono melalui akun twitternya @drpriono yang menandai akun BPOM RI, seperti dikutip merdeka.com, Selasa (29/6).
FLCC sendiri kepanjangan dari Frontline Covid Critical Care Alliance yakni organisasi nirlaba yang berbasis di AS. Organisasi kemanusiaan ini terdiri dari dokter-peneliti-peneliti ahli dunia yang terkenal yang satu-satunya misinya selama setahun terakhir adalah mengembangkan dan menyebarluaskan protokol pengobatan yang efektif untuk covid-19.
Surat yang ditanda tangani Dr Tess Lawrie sebagai perwakilan dari BIRD Group ini awalnya memuji langkah pemerintah RI dalam penanganan Covid-19. Pun, dia memuji para tenaga kesehatan serta organisasi lainnya di dalam negeri yang berupaya meringankan penderitaan rakyat kala pandemi menyerang.
Pujian AS ke Indonesia dalam penanganan Covid-19 khususnya ditujukan kepada beberapa provinsi yakni, DKI Jakarta, Jawa, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung Kepulauan dan Kalimantan Utara.
Pada paragraf selanjutnya, dijelaskan selama empat bulan terakhir, E-BMC Ltd telah bekerja sama dengan FLCC untuk mendorong pemerintah di seluruh dunia untuk mengadopsi kembali obat yang ada untuk penanganan awal covid-19.
Salah satu obat tersebut adalah Ivermectin, obat yang telah digunakan selama hampir 40 tahun untuk mengobati infeksi parasit. Bukti baru menunjukkan bahwa dia memiliki sifat antivirus dan anti-inflamasi yang kuat juga.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya