Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dokter Ungkap Pasien Covid-19 Cenderung Alami Peradangan Serius pada Paru

Dokter Ungkap Pasien Covid-19 Cenderung Alami Peradangan Serius pada Paru Melihat WNI usai jalani isolasi di RSD Wisma Atlet. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Praktisi kesehatan, Andi Khomeini Takdir mengungkap pasien Covid-19 kini cenderung mengalami pneumonia bilateral. Pneumonia bilateral adalah peradangan serius pada kedua paru.

"Pas di foto rontgen, biasanya kita sebut pneumonia bilateral, radang paru pada kedua sisi paru," katanya dalam diskusi virtual, Selasa (29/6).

Dokter yang bertugas di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet ini menyebut kondisi pneumonia bilateral baru terjadi pada tahun 2021. Pada tahun 2020, pneumonia hanya menyerang satu paru pasien Covid-19.

"Dulu tahun lalu biasanya yang kena pneumonia lebih sedikit areanya yang terdampak, tetapi tahun ini kalau saya lihat foto rontgen pasien-pasien saya itu lebih luas," ujar dia.

"Jadi mungkin karena disebabkan perbedaan varian atau nanti lah kita tahu jawabannya beberapa waktu ke depan," sambungnya.

Andi Khomeini mengajak seluruh masyarakat Indonesia disiplin menggunakan masker untuk mencegah terpapar Covid-19. Dia mengingatkan masker yang tepat untuk digunakan saat ini adalah dua lapis.

"Yang jelas, ini maskernya. Kuncinya di situ (masker dua lapis)," ucapnya.

Sebelumnya, Andi Khomeini menyebut, masker dua lapis bisa memberikan proteksi dari Covid-19 hingga 90 persen. Hal ini berdasarkan hasil studi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat ( CDC).

"PR-nya kita sudah tahu bahwa itu tadi masker dengan dua lapis punya angka proteksi 90 persen. Which is itu lebih bagus dibandingkan hanya satu yang kita tahu tahun lalu," ujarnya.

Kementerian Kesehatan mencatat, kasus varian baru Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 309. Data ini berdasarkan hasil pemeriksaan sekuens genom virus SARS-CoV-2 pada 22 Juni 2021.

Dari total 309 kasus varian baru Covid-19, 254 di antaranya merupakan varian Delta. Sementara sisanya, 49 kasus varian Alpha dan 6 kasus varian Beta.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menjelaskan 309 kasus varian baru Covid-19 tersebar di 14 provinsi. Namun, khusus varian Delta yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi tersebar di sembilan provinsi.

Sembilan provinsi tersebut adalah DKI Jakarta dengan 96 kasus varian Delta, Jawa Tengah 80, Jawa Barat 48, Jawa Timur 18, Sumatera Selatan 3 dan Kalimantan Tengah 3. Kemudian Kalimantan Timur 3, Banten 2, Kalimantan Selatan 1.

Sementara 49 kasus varian Alfa ditemukan di 10 provinsi. Yakni, DKI Jakarta memiliki 33 kasus varian Alfa, Jawa Barat 6, Jawa Timur 2, Sumatera Utara 2 dan Jawa Tengah 1. Kemudian Sumatera Selatan 1, Bali 1, Kepulauan Riau 1, Riau 1 dan Kalimantan Selatan 1.

Adapun kasus varian Beta hanya tersebar di 3 provinsi yakni DKI Jakarta 4, Jawa Timur 1 dan Bali 1.

(mdk/eko)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP