Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Doa Ibu untuk korban kapal karam di Malaysia

Doa Ibu untuk korban kapal karam di Malaysia Badriah ibu korban kapal tenggelam di Malaysia. ©2015 merdeka.com/afif

Merdeka.com - Mak, lon wo u gampong beh! (Mamak saya pulang kampong ya). Suara itu terdengar di ujung telepon milik Nazuruddin (29), korban kapal tenggelam di perairan Malaysia saat berbicara dengan ibundanya, Badriah (60) sebelum berangkat pulang.

Penggalan kalimat itu menjadi suara terakhir yang didengar dari mulut anak bungsunya. Setelah itu Nazaruddin tidak lagi menghubungi ibunya hingga keluarga besar mengetahui Nazaruddin menjadi salah satu korban kapal tenggelam di perairan Sabak Berenam, Selangor, Malaysia.

Menggunakan jilbab ungu, kulit yang sudah keriput, sorotan matanya menatap ke sejumlah sudut ruangan Rumah Sakit (RS) Bhayangkara dalam ruangan DVI Ante Mortem Polda Aceh. Kedatangannya hendak mengambil sampel Ante Mortem dan juga darah untuk tes DNA, Jumat (11/9).

Dari tatapan sorot matanya terpancarkan secercah harapan agar anaknya bisa selamat dan bisa berkumpul kembali di tengah-tengah keluarga. Namun semua itu sirna, setelah ia mengetahui anak satu-satu laki-laki dari 3 bersaudara ini telah tiada.

Deraian air matanya pun tak terbendung saat ditemui merdeka.com di ruang DVI Ante Mortem Polda Aceh. Sembari menangis hingga terisak-isak, dia mengisahkan kepergian anaknya ke Malaysia hanya satu tujuan, hendak mencari nafkah.

"Dia itu tulang punggung keluarga dia satu-satunya anak laki, 2 laki kakaknya perempuan, tapi apa hendak dikata, Allah telah memanggilnya," kata Badriah dalam bahasa Aceh kental.

Tangisannya semakin menyesakkan dada saat dia ingat bahwa Nazaruddin dibesarkan sejak usia 15 tahun sudah menjadi yatim. Ayahnya telah tiada dan hingga sekarang tidak diketahui jasadnya, karena ayahnya adalah terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Kala itu, rumahnya yang berada di Paya Bakong, Matang Kuli Aceh Utara terkenal menjadi basis GAM dibakar oleh pihak TNI. Saat itu Aceh masih konflik sekitar tahun 2000 lalu.

"Saya sudah pernah larang Nazaruddin tidak pergi ke Malaysia, tapi dia pergi gak bilang sama saya, sampe ke Malaysia baru dibilang," ungkapnya.

Kendati demikian, dia mengaku tidak marah pada anaknya itu. Karena dia sadar lapangan pekerjaan di gampong tidak tersedia. Ia hanya bisa pergi ke kebun yang penghasilannya tidak menentu.

"Terakhir saya bilang, saya tidak bisa berikan apapun, saya tidak bisa kirim apapun, termasuk makanan ke Malaysia, saya hanya bisa kirim doa untuk dia jauh di sana," urainya.

Kini Nazaruddin sudah tiada. Dia sudah terlebih dahulu menghadap sang Khalik. Badriah pun mengaku sudah bisa mengikhlaskan kepergian anaknya itu. Meskipun dia merasa kehilangan besar, karena kehilangan anak laki-laki satu-satunya pewaris ayahnya.

"Saya sudah ikhlas sekarang, sudah bisa saya terima, semoga dia bisa diterima di sisi Allah SWT," tutupnya. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP