Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Djarot ngaku pernah dapat info rencana pembunuhan Ahok di Telegram

Djarot ngaku pernah dapat info rencana pembunuhan Ahok di Telegram Ahok-Djarot gelar jamuan makan di Dharmawangsa. ©2016 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan menyebut, sejak 2015 kelompok teroris terdeteksi menggunakan Telegram untuk berkomunikasi melakukan aksi teror. Salah satu komunikasi yang terdeteksi itu rencana pembunuhan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Terkait hal tersebut Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengakui pernah mendapat informasi terkait rencana pembunuhan Ahok itu.

"Saya tidak main Telegram, tapi saya dapat info seperti itu. Itulah, makanya Telegram kemarin dapat sanksi diblokir kominfo ya, ya blokir aja," kata Djarot usai menghadiri peluncuran buku "Ahok di Mata Mereka" di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (19/7).

Djarot setuju dengan langkah pemerintah memblokir aplikasi percakapan buatan Rusia itu karena telah dimanfaatkan kelompok teroris untuk menebar paham radikalisme dan dijadikan alat komunikasi untuk melancarkan aksi teror.

"Untuk diskusi belajar tentang radikalisme, tentang Islam yang terkait ISIS ya harus diblokir," pungkasnya.

Sebelumnya Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) memblokir layanan perpesanan Telegram. Diblokirnya layanan itu lantaran dimanfaatkan kelompok teroris untuk menebar paham radikalisme dan dijadikan alat komunikasi untuk melancarkan aksi teror.

Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan menyebut, sejak 2015 kelompok teroris terdeteksi menggunakan Telegram berkomunikasi untuk melakukan teror. Salah satu komunikasi yang terdeteksi itu rencana pembunuhan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

"Yang memiliki data lengkap BNPT dan Densus," kata Samuel saat dikonfirmasi merdeka.com, Selasa (18/7).

Menurut Samuel, pembunuhan terhadap Ahok tersebut rencananya dibarengi dengan pengeboman mobil dan tempat ibadah pada 23 Desember 2015. Selain itu, salah satu dasar diblokirnya aplikasi Telegram terkait insiden penikaman oleh teroris terhadap dua anggota polisi di Masjid Falatehan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (30/6).

"Pergerakan mereka sudah kalang kabut. Mereka mau pindah, pindah saja. Tetapi, kemampuan layanan perpesanan chat lain berbeda dengan Telegram. Sekali lagi, kita tekankan adalah kita hanya memantau niatan jahat kepada bangsa," kata dia.

(mdk/bal)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP