Djarot: Bangsa yang tak paham sejarah seperti berjalan di lorong gelap
Merdeka.com - Pada 19 September 1945, terjadi rapat raksasa di Lapangan Ikada yang saat ini berada di selatan Monas, dekat dari Balai Kota Pemprov DKI Jakarta. Rapat besar itu dilaksanakan sebulan pascakemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Pada Selasa (19/9) pagi, Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat memimpin apel untuk memperingati hari penting itu. Ia pun mengimbau kepada seluruh ASN agar menyerap intisari dari rapat raksasa Ikada.
"Rapat raksasa ini ambil intisarinya. Bahwa kita bangsa pejuang. Untuk apa sih kita bersatu kalau bukan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur," jelasnya.
Djarot mengatakan saat rapat Ikada berlangsung, pesertanya ratusan ribu orang. Mereka pun berada di bawah tekanan kolonial Jepang. Peserta pun tetap tertib dan tanpa pertumpahan darah.
"Kadang-kadang mereka enggak inget maka perlu diingatkan," ujarnya.
Lantas itu, Djarot pun mengingatkan sejarah bagaimana kemerdekaan bisa tercapai. Kemerdekaan, kata Djarot, tidak lahir dengan serta merta tapi melalui proses panjang. Kemerdekaan juga bukan hadiah dari penjajah.
"Tapi direbut. Kita itu bangsa pejuang. Satu bangsa yang tidak paham akan sejarah bangsanya, dia akan seperti berjalan di lorong gelap," jelasnya.
Bagi masyarakat yang tidak tahu asal usul kemerdekaan dan tujuan berbangsa dan bernegara maka akan gampang berkelahi demi kekuasaan dan ekonomi. "Saling sikut saling fitnah saling hujat. Dia lupa. Saling cakar satu sama lain," pungkasnya. (mdk/rzk)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya