Dita bomber gereja Surabaya, sejak SMA ngekos dan tinggal terpisah dari orang tua
Merdeka.com - Kehidupan Dita Oepriarto, otak sekaligus pelaku bom di tiga gereja di Surabaya mengundang perhatian. Terlebih, tetangga sekitarnya tidak menduga Dita terpapar paham radikalisme dan masuk jaringan JAD Surabaya.
Adik kelas Dita semasa SMA sempat memberi testimoni dan pengakuan. Menurutnya, indikasi Dita terpapar paham radikalisme terlihat sejak duduk di bangku SMA.
Merdeka.com mencoba menyambangi kediaman orang tua Dita di Tembok Dukuh Surabaya, Rabu (16/5). Orang tua dan saudara Dita menolak wawancara. "Jangan ya mas (wawancara)," ujar salah seorang kerabat Dita.

Salah satu tetangga, Arif (57) menceritakan, sejak SMA, Dita sudah tidak tinggal bersama orang tuanya. Dita memilih ngekos berpindah-pindah.
"Saya tidak tahu tepatnya di mana saja dia ngekos. Tapi, yang saya tahu dia pernah ngekos masih dekat sini, satu kampung. Mungkin 100 meter dengan kediaman orang tuanya," katanya saat dijumpai merdeka.com.
Arif tidak mengetahui alasan Dita memilih tinggal terpisah dari orang tuanya. Tetangga juga tak menaruh curiga saat itu. "Mungkin ada tugas SMA yang membutuhkan tempat yang lebih luas. Jadi saya pikir biasa saja," ujarnya.
Setelah menikah, Dita mulai mengontrak rumah. Masih di lingkungan kampungnya. Hanya berbeda nomor antara rumahnya dengan milik orang tuanya. Dita kerap berpindah-pindah rumah.
"Berkali-kali pindah rumah nomor 7, nomor 23, terakhir Dita membeli rumah di depan rumah orang tuanya di nomor 32 pada tahun 2005," tambahnya.

Mengenai kepribadian DT, Arif melihat biasa saja. Tidak ada yang mencolok, baik penampilan maupun pemikirannya. Dita pernah menjadi Ketua RT selama dua periode sejak 2002-2008. Barulah kemudian, dia pindah ke Rungkut tahun 2010.
Namun sejak pindah, Dita jarang menghampiri orang tuanya. Dita juga jarang terlihat membawa istri atau anaknya.
"Tapi kalau lihat langsung, saya tidak pernah melihat Dita bawa istri atau anak-anaknya, sekadar dengar saja pernah."
Diketahui, DT menjadi otak bomber tuga gereja di Surabaya bersama istri dan keempat anaknya, Minggu (13/5). Ada tiga gereja yang ditarget, yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Jalan Ngagel Jaya, lalu GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Jalan Arjuno.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya