Disuruh Belajar di Rumah, 49 Pelajar di Samarinda Malah Main di Warnet
Merdeka.com - Puluhan pelajar di Samarinda, Kalimantan Timur, terjaring razia Satpol PP siang ini. Mereka tepergok asyik bermain games di warnet. Orang tua mereka pun dipanggil ke kantor Satpol PP Samarinda.
Sebelumnya, Pemkot memutuskan untuk meniadakan kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah pada 17-31 Maret 2020, dengan meliburkan murid/siswa PAUD-SMP. Gantinya, pelajaran dilakukan secara daring/online di rumah masing-masing.
Razia Satpol PP digelar mulai pukul 09.00-14.00 WITA siang tadi, menindaklanjuti perintah razia yang dikeluarkan Selasa (17/3) kemarin, oleh Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang.
Kecurigaan adanya siswa dan pelajar keluyuran terbukti. Warnet jadi tempat tongkrongan mereka, dan asyik bermain game online. Tercatat, 49 anak terpaksa diangkut Satpol PP untuk dilakukan pembinaan.
"Penertiban sesuai instruksi Wali Kota. Ada indikasi anak-anak yang diliburkan, diminta belajar di rumah, ini keluyuran mengisi game center dan warnet," kata Kasi Operasional dan Pengendalian Satpol PP Samarinda Boy Leonardo Sianipar, usai razia di kantornya, Jalan Cempaka, Rabu (18/3).
Boy menerangkan, dari patroli ini, 49 anak berhasil terjaring. Mereka diketahui pelajar berusia 7-16 tahun.
"Ada orang tua yang kaget, karena lagi bekerja. Anak memang tidak terpantau di rumah," ujar Boy.
Dijelaskan Boy, dengan begitu, warnet memang menjadi salah satu titik rawan sebaran virus Corona (Covid-19). "Tolong, orang tua menjaga anaknya. Karena tingkat kerentanan tinggi. Jangan keliaran di luar rumah," terang Boy.
Boy memastikan, selama 14 hari ke depan, terus menggiatkan patroli di arena game ketangkasan. "Sasaran utama kami masih warnet dan game center," tegas Boy.
Jokowi Minta Pelajar Tak ke Warnet
Presiden Joko Widodo meminta pelajar dan mahasiswa untuk belajar dari rumah selama dua pekan ke depan. Hal tersebut untuk membatasi mobilisasi demi mencegah penyebaran virus Covid-19 alias corona.
Menurut Jokowi, banyak cara yang bisa dilakukan para pelajar dan mahasiswa. Misalnya, melalui platform belajar dalam jaringan (online) seperti ruangguru, zenius atau melalui google. Jokowi minta para guru membimbing para siswanya.
"Artinya ini sudah berjalan hari ini kita mengajak agar guru bisa mengarahkan ke sana dalam dua minggu ke depan. Sehingga betul-betul belajar dari rumah bisa efektif. Kalau ini bisa efektif, saya yakin mengurangi banyak sekali mobilitas pelajar, mahasiswa dan mengurangi penyebaran COVID-19," ujar Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor, Senin (16/3).
Jokowi mengakui tidak semua sekolah siap mengikuti kebijakan ini. Karena ada yang belum mampu belajar secara online. Dia pun meminta keaktifan dari sekolah dan guru.
"Ada yang mampu dengan online ada yang belum sehingga keaktifan tiap sekolah, tiap guru," ucapnya.
Jokowi pun mengingatkan kepada para pelajar dan mahasiswa untuk mengikuti anjuran belajar dari rumah. Dengan tidak memanfaatkan situasi seperti sekarang untuk malah bepergian ke tempat kerumunan orang.
"Tapi jangan sampai kita harapkan, pelajar diliburkan tapi malah bermain ke warnet, ke tempat yang banyak kerumunan," ucapnya.
Dia menuturkan, dalam belajar dari rumah, pemerintah banyak mendapatkan banyak bantuan.
"Mendikbud telah memanajemen hal ini, mengkoordinasikan ini, sehingga hari ini kita mendapatkan bantuan gratis untuk belajar lewat online dari ruang guru, dari jenius, dari Google, dari Microsoft, dari Quipper, dari Sekolahmu, dan dari Kelas pintar. Artinya ini sudah berjalan hari ini," kata Jokowi.
Dia menuturkan, agar para guru-guru bisa mengarahkan muridnya untuk belajar di sana.
"Kita ingin mengajak, agar guru juga mengarahkan ke sana dalam dua minggu ke depan. Sehingga betul-betul belajar dari rumah ini bisa efektif," ungkap Jokowi.
Menurut dia, jika ini efektif, maka bisa mengurangi mobilitas masyarakat. Terutama saling bersentuhan demi menghindari penyebaran COVID-19.
"Kalau ini bisa efektif, saya yakin akan mengurangi banyak sekali mobilitas para pelajar, mahasiswa, dan mengurangi penyebaran COVID-19," tukasnya.
Menurut dia, menteri dan dirinya akan mengikuti evaluasi terhadap efektif belajar dari rumah tersebut.
"Ada yang sudah mampu (daerah) dengan online. Ada yang belum. Sehingga di sini keaktifan setiap sekolah, keaktifan dari guru menjadi hal yang penting kalau itu tidak bisa online," tegas Jokowi.
Dia berharap dengan belajar di rumah, tak membuat anak-anak justru belajar. Malah bermain.
"Tetapi jangan sampai kita harapkan, pelajar diliburkan tapi justru malah bermain ke warnet, bermain ke tempat-tempat yang banyak kerumunan orang. Saya rasa penjelasan itu harus tetap dilakukan," pungkasnya.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya