Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dilarang rayakan Cap Go Meh di halaman Masjid Agung Jateng

Dilarang rayakan Cap Go Meh di halaman Masjid Agung Jateng Karnaval Cap Go Meh. ©2016 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Kota Semarang menyayangkan adanya penolakan perayaan Cap Go Meh di halaman Masjid Agung Jawa Tengah oleh beberapa pihak. Padahal Cap Go Meh dinilai bukan kegiatan keagamaan.

"Cap Go Meh itu selebrasi (perayaan) budaya kok, bukan selebrasi agama. Pada intinya itu bukan ibadah, jadi kenapa harus dilarang diadakan di masjid," kata Ketua Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama Semarang Tedi Kholiludin dilansir dari Antara, Sabtu (18/2).

Dia menilai dengan adanya penolakan perayaan Cap Go Meh di halaman MAJT itu menunjukkan mulai ada krisis toleransi di Kota Semarang. Menurut dia, Cap Go Meh bisa dirayakan di tempat mana pun sepanjang tidak melanggar hukum.

Ia mengungkapkan, perayaan Cap Go Meh itu rencananya hanya dilakukan di halaman MAJT, bukan dilakukan di area utama masjid yang sehari-hari digunakan untuk salat.

"Kalau diadakan di halaman masjid, apa salahnya? 'Wong' yang akan menjadi narasumber pada acara itu juga tokoh-tokoh panutan umat Islam, mengapa kita tidak mengedepankan persaudaraan?," ujarnya.

Tedi menjelaskan, pada beberapa literatur kitab klasik, masjid justru menjadi tempat untuk bermusyawarah, mengadakan kegiatan warga, dan menyusun kekuatan perang.

"Harus dipahami bahwa dulu, masjid itu pusat peradaban dan itu berbanding terbalik dengan kelompok-kelompok keagamaan di Indonesia yang menilai masjid itu amat sakral, sampai-sampai kalau ada orang di luar golongannya, tidak boleh salat di masjidnya dan itu menjadi aneh banget," katanya.

Setelah dilakukan negosisasi, perayaan Cap Go Meh akhirnya dipindahkan ke Balai Kota Semarang karena mendapatkan penolakan.

"Kami sepakat memindahkan perayaan Cap Go Meh ke Balai Kota Semarang. Panggungnya di MAJT juga sudah dipindah," kata Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jawa Tengah Dewi Susilo Budiharjo di Semarang, Sabtu (18/2).

Dewi sempat berembuk dengan sejumlah tokoh yang dijadwalkan akan hadir, seperti Habib Luthfi bin Yahya dan Romo Budi yang memberikan wejangan untuk tidak perlu berkecil hati dan tidak mempermasalahkan pemindahan lokasi kegiatan itu.

"Saya banyak berembuk dengan beliau (Habib Luthfi, red.). Ya, memang demi banyak hal kita harus sepakat pindah ke Balai Kota Semarang. Tidak masalah, balai kota juga merupakan rumah besar bagi masyarakat Kota Semarang," ungkapnya.

Perayaan Cap Go Meh di Kota Semarang pada 2017 ini rencananya dilaksanakan pada Minggu (19/2) di halaman MAJT dengan menghadirkan tokoh lintas agama seperti Habib Luthfi bin Yahya, Kiai Haji Mustofa Bisri (Gus Mus), dan Romo Aloysius Budi Purnomo. (mdk/did)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP