Dihujat di media sosial, Aher-Deddy batal pakai mobil dinas baru
Merdeka.com - Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat terpilih Ahmad Heryawan (Aher)- Deddy Mizwar batal menggunakan mobil dinas baru yang harganya Rp 1 miliar lebih. Sejak ramai di pemberitaan Aher mengaku mendapat respon negatif dari masyarakat melalui media sosial.
"Saya sudah minta pengadaan barang dan jasa pemerintah untuk menghentikan tender, serius ini timing-nya tidak tepat aja," kata Aher di Gedung Sate, Bandung, Selasa (21/5).
Menurutnya sejak adanya pemberitaan tentang pengadaan mobil dinas baru seharga Rp 1,16 miliar tak sedikit orang yang 'menyamber'-nya di social media. Atas pertimbangan itu dia memilih menggunakan mobil lama.
"Pertimbangannya diramein sama orang, di sosmed rame banget hari ini, yaudah saya panggil tadi Pak Dadang Suharto (Kepala Unit Layanan Pengadaan) untuk menghentikan tender," ujarnya.
Dia tak masalah dengan mobil yang ada saat ini. Meski diakuinya perjalanan dinas sempat terganggu lantaran sudah dua kali mengalami mogok di tengah jalan.
"Ini urusan kehormatan lebih tinggi dari urusan mobil. Saya tidak suka, butuh tapi kalau dinilai negatif buat apa," ujarnya.
Dia mengaku bahwa pengadaan mobil dinas baru tidak ada yang menyalahi aturan. "Memang tidak ada aturan yang dilanggar tapi kenapa diramein, Ketika urusan kehormatan saya lebih tinggi dari pada urusan mobil, saya katakan batal," terangnya.
"Suara masyarakat juga kan suara Tuhan, saya dengar suara itu, selesai," tegasnya.
Aher-Deddy sebelumnya berencana memiliki mobil dinas baru jenis sedan Toyota Camry yang memiliki 2.500 cc. "Mobil yang lama (Toyota Crown 2007) yang selama ini digunakan Ahmad Heryawan pun kondisinya sudah mulai tidak bagus," kata Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) provinsi Jabar Dadang Suharto, kemarin.
Bahkan ketika sedang dalam perjalanan dinas ke Bekasi, mobil berwarna hitam itu kata dia, pernah mogok. Terpaksa Aher harus pindah ke mobil lainnya. "Jadikan memang perlu ada cadangan," ucapnya.
Menurutnya, pengadaan mobil dinas baru bagi keduanya pun terbilang wajar. Apalagi dua kepala daerah ini nantinya kerap melakukan perjalanan jauh mengingat letak geografis Jabar yang tidak berdekatan.
(mdk/hhw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya